Tampilkan postingan dengan label Coffee time. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coffee time. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

Waru


Minggu sekitar pukul tigapuluhan menit sebelum sholat asar kira-kira. Bersama tiga kawan aku masuk ke kedai kopi yang kata beberapa rekan sekantor cukup cozy penampilan dan sajian kopinya. “silakan duduk bapak” sapa pelayan kedai yang pingin langsung ku koreksi, serasa langsung mau ngebales “mas saja mbak, belum punya anak kok” tapi mulut ada yang mengunci, jadi tak sampai terucap ke pelayan yang barusan mempersilahkan duduk dengan buku menu yang ia berikan dengan sopan. Mungkin kami adalah pelanggan hari itu yang kesekian puluh, jadi kira-kira pelayan melakukan hal yang sama, kata sapaan-senyum dan gerak tangan yang sama juga kepada para pengunjung lainya.

Rabu, 22 Mei 2013

Total Residu Terlarut


Masih terjaga bersama waktu. Tak hanya waktu, akhir-akhir ini selain kopi dan kotak putih ada faktor lagi yang menjadi kawan dekat, jarak. Begitupun sebenarnya saya berseteru dengan jarak, tapi saya jadi mengerti apa makna dari kilometer dan kedekatan. Ini masih terlalu pagi, tak baik terus berseru pada jarak. Oke, saya hanya ingin bercerita tentang rekan dan yang intim pada rekan saya.

Sebenarnya waktu itu saya basa-basi ngajak dia ngopi di sebuah kedai. Di kota ini, kota yang baru saya akrabi, lebih sering ngopi sendiri. jarang dari rekan baru saya disini yang sehobi dengan melewati setiap menit dalam jam-jam di kedai. Dan saat itu, rekan saya, Dito namanya, menerima tawaran saya. Jadilah kami ngopi. Dito adalah enginer lingkungan yang dua tahun lebih dulu memulai pengalaman dalam area lingkungan tambang.

Ia pernah bilang, ketika sudah berkeluarga, ia lebih memilih tinggal di perumahan dari pada hidup di desa. Selain tertata, perumahan memberi jaminan hidup yang lebih privat. Di desa tidak seperti itu. “Di desa dalam seminggu bisa saja harus menghadiri undangan syukuran sampai sembilan kali” kata dia. Dari situ saya menilai Dito adalah teman yang cukup menghindar dari kehidupan rural, dan lebih memilih yang invidual. Saya sempat berfikir, ia adalah introvert. 

Sabtu, 13 April 2013

Coffee time


Kamu pernah bilang, nanti ke Coffee time yuk?. Hayuuukk. Jawabku penuh gairah. Manapun tempat yang ingin kamu jangkau, aku mau menemanimu. Jawabku, kali ini hanya dalam hati. Jujur aku tak terlalu priorotas tempat untuk denganmu. Manapun tempat asal denganmu, aku bisa merasakan ruang fana yang pernah dijanjikan oleh agamaku. Itu saat bersamamu. Kata nanti, ternyata masih lama. Masih ada beberapa minggu untuk menungguimu di Coffee time yang pernah kamu sebut itu.

Malam ini aku di Coffee time. Resto dan café yang cukup punya pelanggan berdandan necis di kota ini. Beberapa kali memang aku sempat ngopi disini, meskipun sebenarnya yang ku ingini adalah untuk menikmati konser musik. Konser musik di sini biasanya gratis. Untuk kali ini, aku di café ini, untuk menepati undangan dari kantor. Tapi café ini beda dengan yang pernah kamu janjikan. Aku disini, masih belum bersamamu. Untuk bersamamu masih terhitung tujuh minggu, ini Coffee time yang di dekat sungai terbesar dan terpanjang di provinsi yang ku tempati saat ini. Di tempat yang berbeda daratan denganmu. Di tempat ini sering ada konser musik. Dan aku pertama kali menikmati musik jazz di tempat yang baru ini, ya di café ini. Tentunya sejak aku tinggal di tempat ini. Memang berbeda dengan tempat tinggal kamu. Di sana kita bisa lebih sering menikamati musik-musik yang tak mainstream, tapi di sini sangat langka dan jarang. Dengar-dengar malah baru kali ini, di kota ini ada live music Jazz dengan mendatangkan musisi sekelas Benny Likumahuwa, Barry Likumahuwa, I Wayan Balawan serta lainya.