Jujur, otak saya harus terpaksa berfikir keras saat
mendengar nama salah satu jenis tanaman satu ini. Bukan karena taksonomi atau
tentang fisiologinya, tapi karena namanya yang unik dan nyleneh. Lidah mertua. Iya, masyarakat kita nyebutnya seperti itu.
Kembang lidah mertua. Kalau lidah buaya saya lebih dulu mengenal, dan menurut
saya wajar karena bentuk daun lidah buaya yang lebih mirip dengan bagian organ
buaya. Jadi otak saya cukup menerima dengan tanaman lidah buaya, meskipun
sebenarnya daunnya lebih mirip dengan ekor buaya dari pada lidah seekor buaya.
Lha ini Lidah mertua, apa coba hukum kasualitasnya? Kalean bingung dengan bunga
ini? Maaf, saya juga bingung. Hheuheu…
Tampilkan postingan dengan label Other. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Other. Tampilkan semua postingan
Kamis, 26 September 2013
Selasa, 28 Mei 2013
Citra niaga
Pukul
11 lewat beberapa menit, siang hari. Saya putuskan untuk menggunakan jasa
angkot untuk menuju pertokoan Citra niaga. Sebenarnya pernah sekali ke tempat
itu, tapi sudah beberapa bulan yang lalu, dan kini, saya lupa. Saya tidak yakin
segera menemukan tempat itu bila dengan berkendara sendiri. Jasa angkutan kota
adalah pilihan tepat untuk menuju sana. Sebenarnya bisa juga menggunakan ojek
yang lebih cepat, tapi Samarinda dengan siang yang erat dengan bulir-bulir debu
yang bebas mondar-mandir-hilir-mudik, saya rasa tak tepat bila menggunakan jasa
ojek. Ingin yang lebih nyaman juga ada, taksi dengan seri sedan Limo. Dengan
jasa angkutan ini, harus dalam-dalam rogoh kocek, sehingga cukup bukan menjadi
pilihan.
Angkot
juga mengingatkan saya pada masa kuliah dulu. Saat kuliah angkot menjadi
pilihan primadona kebanyakan mahasiswa yang akan memobilisasi diri ke suatu lokasi,
tak terkecuali saya. Meskipun abang-abang angkotnya tidak jarang juga membuat
suasana gerah karena ngetem yang tak kunjung melepas pedal rem, tapi tetap saja,
kehadiranya sering saya nanti-nanti.
Selasa, 30 April 2013
Tujuh
Tetangga samping rumah, yang depan
rumahnya ada bangunan langgar pernah mengatakan,
bahwasanya langit itu bertingkat sampai tujuh lapis.
Surga juga terdiri menjadi tujuh kelas,
ujar mereka. Memang, banyak dari disiplin ilmu yang menyatakan angka tujuh
dengan kaitan-kaitan yang unik juga menarik. Dan kamu, juga punya versi
tersendiri.
Bagimu, Tujuh adalah sesuatu yang
sungguh. Monumental, mungkin bukan sekedar itu. Tapi aku tak tahu apa tujuh
menurutmu. Yang aku ingat, kamu suka tujuh.
Selasa, 23 April 2013
Belum berjudul
Pada jauh
mata hanya bisa menebak, sambil terbelalak. Pada lama, hati ia hanya bisa
bertahan. Meyakini, juga meyakinkan apa yang telah dipilih. Sudah banyak yang
tahu. Saat memberi jadilah seperti matahari. Tak berharap imbalan. Tapi siapa
yang tahan untuk tidak mendapat timbal balik kasih yang diberikan. Bahkan tuhan
juga demikian. Makluknya yang tak patuh, apalagi setelah diberi, tuhan
mengancam dengan tempat yang mengerikan, ini malah hukuman. Kejam bukan?
Entah,, kenapa adagium tadi sangat berat. Tapi tuhan tak memerintah untuk
seperti matahari bukan? tuhan hanya ingin kita solat. Setelah itu surga. Betul
begitukah? Entah...ya sudah.
Manusia susah untuk menjadi matahari.
Tapi tak baik manusia menyalahkan tuhan, walau
sering manusia demikian. Manusia memang tak harus seperti matahari, tapi
manusia bisa berusaha memberi tanpa memikirkan setelahnya. Hanya memberi.
Yakin??
Pada jauh, sungguh apa yang ia sudah yakini akan
susah, walau yang lainya merubah. Pada manusia yang sungguh, ia tidak memainkan
hati tapi ia bermain dengan hati. Pada lama, ia tak sekedar bermain. Ia ingin
bersama dengan keyakinan, juga bersama pilihan.
Sungguh.. ia hening karena sesaat tak bersamamu.
-hp-
Tenggarong, 23 April 2013
Senin, 18 Maret 2013
Sapa setelah cuti kerja
Halo semua,, dan halo juga untuk “kamu”
Sudah hampir dua minggu nih saya tidak pablis
tulisan ke serambitengah. Maklum, selama dua minggu yang lalu saya liburan
alias cuti kerja. Dan saya memanfaatkan untuk jalan-jalan dan menikmati waktu
bersama keluarga, kopi dan “kamu”. dua minggu yang terasa lekas dan sekarang
kembali ke rutinitas. Panggilan kerja yang tak harus saya elak, untuk dunia
pembelajaran, untuk keprofesionalan dan untuk mencumbui kecambah-kecambah
tanaman kacang-kacangan. Serta, masih dan untuk selalu mecintaimu melalui angan
dan tulisan-tulisan yang mendekati ketidak jelasan arah penulisanya. Hanya satu
yang jelas, ingin selalu kusebut “kamu” pada setiap helai paragraf.
Nah… iya kan,,, sudah mulai tidak jelas lagi arah
tulisannya.
Kamis, 28 Februari 2013
Menguap itu dapat menular
Siang yang sudah menjelang pukul setengah tiga. Kebetulan
langit dari kaca jendela berwarna abu rada-rada gelap. Mendung, dan hujan
nyaris netes. Tapi belum hujan deras, hanya sempat beberapa kali ada cipratan
kecil di luar jendela.
Di dalam kantor, di ruangan Enviro section,
tertinggal 2 laki-laki saja. Kalau 1 perempuan dan 1 laki-laki itu sudah ada
dalilnya, dan itu menurut saya lebih asyik. Tapi kalau keduanya adalah laki-laki,
nah itu yang harus lebih hati-hati. Maklum sekarang jamanya gossip. Semoga cerita
maho dan lain sebagainya tak berepidemi di ruangan ini.
Tapi ketika dalam ruangan hanya terdapat dua
laki-laki, apakah itu menjadi suatu kekhawatiran yang terlalu sangat. Sepertinya
tidak juga, mungkin tadi saya hanya berlebihan. Buktinya ini enjoy-enjoy saja. Masing-masing
menyelam dalam layar computer yang ada di hadapanya. Pada ruangan yang sama,
tapi seperti berjarak ratusan mil. Begitulah, terkadang kesibukan kerja membuat
sedemikian rupa pemandangan dalam ruangan kantor ini menjadi saling asing.
Jumat, 01 Februari 2013
Twilight [bukan sinopsis]
Bagi para penikmat film roman, pasti tau atau malah
tau banget film Twilight garapan Catherine
Hardwicke hasil dari adaptasi dari novelnya Sthephine Meyer dengan judul
yang serupa. Pada tayangan sepanjang kurang lebih 120 menit pada setiap
chapter, adegan yang paling memaksa kelopak mata untuk tidak berkedip adalah selain
saat-saat Edward dan Bella bercumbu adalah latar mereka bercumbu, taman rerumput
di tengah-tengah belantara hutan temperate.
Yap, lelaki mana yang tak mengakui Kristen Stewart atau
Bella Swan, nama dalam film, untuk bilang “kamfreet,,nyidam apa emaknya dulu
waktu hamil yak?” atau wanita mana yang ga sepakat kalau Jacob itu Laki banget.
Apa lagi saat telanjang dada, waow. Yah cuman kata-kata “ohmegot,,,,sunat
dimana itu bapaknya dulu yak?” hhihii..
atau mungkin kalimat-kalimat yang senada dengan frase itulah.
![]() |
| Hutan Temperate Forks |
Selasa, 29 Januari 2013
Mulud
Dalan rukun iman, setelah yakin dengan tuhan
selanjutnya adalah iman kepada rasul-utusan Tuhan, Muhammad Salallahu alaihi
wasallam. Utusan yang ummiyyi tapi sangat peka dengan umat dan membaca gejala
alam dengan cermat.
Kami rindu denganmu. Bukankah secara harfiah kita
tak pernah berjumpa. Tapi orang tua kami dan guru ngaji kami mengajarkan engkau
adalah utusan Tuhan yang berparas tampan dan pengasih kepada sesama.
Dalam buku sejarah kebudayaan islam, engkau adalah
pemimpin yang dapat berlaku adil kepada rakyatnya. Dimana sifat dan sosok
seperti mu sekarang sudahlah sangat dan terlalu jarang.
Selasa, 22 Januari 2013
Banjir Ibu Kota

Pekan ke
tiga Januari 2013. Ibu kota tenggelam. Tidak hanya rumah gubuk di bantaran
sungai yang tenggelam, roda perekonomian juga kelelep, pakar ekonom merinci
dengan kalkulator dagang dan bisnis bahwa kerugian sampai bertriliunan rupiah,
bahkan Ketua APINDO menaksir kerugian mencapai 500 miliar per hari. Sekolah
libur dan anak-anak gembira bermain air, walau tak semua berakhir gembira
karena ada korban bocah yang terbawa arus air dan meninggal. Para sekertaris
dipulangkan sebelum jam selesai kerja, karena air terus meninggi dan memaksa
PLN memadamkan aliran arus listrik dan mereka tidak dapat mencetak laporan
mingguanya. Pedagang bakso sementara juga berlibur, karena babi memilih lari
mencari daerah yang lebih tinggi, dan tidak ada bahan. Apalagi pedagang asongan,
tisu paseonya pada basah dan rokok otekan nya juga mlempem kena air.Ojek, taksi dan busway juga
mandek tak beroperasi. Ojek motor masih maklum menurut saya, tapi busway yang
dirancang dengan jalan yang eksklusif pun tak bergeming mesinya saat air dari
kota di sebelah selatan ibu kota mengaliri ibu kota. Ibu kota lumpuh dan
penyakitnya sedang kambuh.
Sabtu, 19 Januari 2013
Puntung ke-4
30 menit lewat dari pukul 12 siang. Beberapa
karyawan senior maupun yang masih bau ijazah universitas, baik yang baru
supervisor atau yang sudah superintendent juga manajer-karyawan kasta bawah
tidak ada, maklum ini kan Negara yang sudah dikasta-kastakan, bahkan cafeteria
untuk karyawan pun dipisah-pisahkan, mereka meluangkan waktu istirahat kerja di
depan cafeteria perusahaan. Bagi yang on
time dalam menjalankan rutinitas makan siang, pada jam segitu sudah selesai
makan siang. Bagi yang workaholic kemungkinan
masih berada dalam ruang kerja. Dan ada juga kloter yang pada menit dari jam
segitu masih makan di cafeteria. Tiga golongan, apabila kriteria yang digunakan
adalah kedisiplinan untuk makan siang.
“Pak Bob, rokokmu yang mana ?” sapa Pak Farhan keluar
dari pintu cafeteria.
“Pakai rokokku saja gak papa Pak.” Sahut seorang
Bapakyang masih muda tapi bukan Pak Bob. Pak Adi namanya.
Selasa, 15 Januari 2013
Sahabat
Diam malam yang setia hadir
disamping ku selalu memberikan cerita tersendiri untuk ku. Cerita tentang Januari
yang tak henti-henti memberikan hujan di kota ini, cerita akan semangat sang
matahari memberiakan energy panas di bulan Agustus, cerita tentang sorak-sorai
aktivis kehutanan akan kecintaanya kepada alam raya, dan curhatan hati akan
kemana lentera asa ini termanifestasikan. Dan masih ada satu cerita lagi, yaitu
cerita tentang harum aroma persahabatan kelas Silvikultur 44. Cerita terakhir
ini lah yang sering menyetubuhi alun fikir ini, karena cerita ini yang sangat
intim dengan ku.
Selasa, 27 November 2012
Mutiara dalam ujud lain : dari kawan di kota kembang
"istiqomah, mungkin itulah suatu perihal
kenapa kita dapat menjadi besar"
Itulah salah satu point dari obrolan bersama kawan. Nifa
namanya, dan malam ini aku memanggilnya dengan mamah Nifah. Jujur terinspirasi
dari ustadzah yang biasa ngasih pengajian di teve. Mamah Dedeh. Mamah Dedeh
yang setiap pagi memberikan cerita tentang kehidupan beragama dengan syar’i,
mendengarkan curhat pada anggota majlisnya untuk memberikan solusi atas masalah
para anggota. Atau hanya sekedar upaya mamah untuk membuat anggota majlis lebih
tabah dan yakin untuk menjalankan kehidupan ini dengan tuntunan kitab suci Alquran.
Mamah Nifah lain dengan mamah dedeh, mamah nifah lebih cenderung bercerita
tentang pengalaman kesehariannya, cerita tentang anak kos, cerita tentang
lampu-lampu kota bandung dari loteng rumah kos, cerita tentang gadis usia 23
tahun yang pada orang tuanya ingin segera memiliki menantu dan cerita-cerita
ala gadis kota dengan upaya dan dayanya untuk membangun kemandirian.
Ceritanya simple dan dapat membangun gairah siapapun yang diajaknya berbicara, tak lain juga aku. Cara bercerita sederhana dan memberi ajakan yang sederhana pula untuk saling konsisten dalam membangun ujud dari sebuah mimpi. Beberapa hal yang malam itu dapat dijumput dari perbincangan dengan mamah nifah by hape diantaranya, yang pertama adalah yang kusebut dan kita sepakati dengan “the power of silaturrahim”. Seperti yang saya dapat dari bangku sekolah menengah, bahwasannya dengan silaturrahim kita dapat menjalin ukuwah islamiyah atau menjalin hubungan sesama muslim dan juga sesama masyarakat tanpa memberikan tanda identitas “Sara”. Dengan bersilaturrahim seseorang yang akan memulai debut bisnisnya dapat lebih mudah karena rekan sesamanya memberikan peluang dan kesempatan juga pinjaman modal. Hal ini dapat terjadi apabila ada saling kepercayaan pada setiap unsur pelakunya. Pada unsur pelaku ada rasa saling percaya pada mulanya juga diawali dengan berkenalan hingga saling mengenal dan memahami karakter. Situasi seperti ini dapat dicapai dengan silaturrahim. Tapi silaturrahim bukan semata-mata dibangun karena ingin mencari untung. Silaturrahim adalah keniscayaan pada setiap manusia, mengingat manusia adalah manusia sosial yang tidak dapat hidup sendiri, inilah alasan klasik yang kita pelajari dulu masa sekolah menengah. Bagiku silaturrahim adalah kebutuhan kita untuk saling membangun manfaat bersama baik itu langsung kepada kita maupun dapat ditujukan kepada pihak lain. Secara langsung maupun tidak langsung silaturrahim juga mengingatkan pada suatu yang mempunyai kekuatan yang memberikan daya kepada manusia untuk melakukan kebaikan dan kebajikan. dialah Tuhan.
Kedua adalah “the power of istiqomah”. Atau bahasa trendnya adalah konsistensi dalam amal/laku. Seorang guru sufi dari jawa timur juga pernah bilang, istiqomah itu lebih mulia dari karomah. Karomah itu sendiri adalah anugrah dari Tuhan kepada makluk yang dipilih karena mempunyai amalan yang tidak biasa tapi hanya pada periode dan masa yang terbatas. Amalan inilah yang diperuntukan untuk mendapatkan karomah itu. Contohnya, seseorang dengan melakukan puasa mutih tujuh hari tujuh malam supaya mempunyai kekebalan tubuh. Atau seseorang yang bertapa di air terjun untuk mendapatkan kekuatan batin. Dan masih banyak contoh sejenisnya. Istiqomah adalah sebuah bentuk manifestasi tersendiri dari kepercayaan yang ia pegang untuk mencapai sesuatu ataupun mendukung apa yang dicita-citakan itu berhasil. Contohnya, dalam syariat islam diperintahkan untuk mendirikan solat. bukan hanya perintah sholat, tapi menggunakan pilihan kata mendirikan sholat. Artinya ibadah yang merupakan tiang agama islam tersebut harus dilakukan secara rutin dan setiap waktunya tiba, tidak hanya dilakukan sesaat saja dan setelah itu sudah tidak dilakukan lagi. Kasus dalam keseharian manusia adalah belajar, dalam hadis Nabi diserukan bahwasannya dalam belajar tidak ada batas usia, dari lahir sampai ke liang lahat manusia diperintahkan untuk terus belajar. Disini ada makna penting mengapa tak ada batasan dalam belajar, bahwa belajar itu adalah hal yang sangat penting terus dilakukan manusia untuk berkembang dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang semakin hari semakin terbuka persaingannya. Persaingan untuk berbagi kebaikan, persaingan beramal kepada sesama dan ada juga persaingan untuk mengabdi pada Tuhan.
Dan yang ketiga adalah “the power of doa”. Manusia sebagai abdi tuhan sudah sepantasnya memohon kepadanya. Tuhan yang memberikan manusia kekuatan untuk berkarya. Tuhan yang memberikan ijin kepada manusia untuk mengelola alam. Tanpa ada izin dari Tuhan, sehebat apapun manusia dalam mengelolan sumber daya tak dapat diujudkan. Sebuah karya manusia sebenarnya juga sebagai ujud kekuasan dan keberadaa-NYA. Ada juga keyakinan manusia yang tidak menghiraukan keberadaan Tuhan, atau seseorang yang tidak terlalu menghiraukan formalitas dalam hukum berdoa walaupun sebenarnya dia juga yakin atas kuasa dan ujud-NYA, yaitu doa dianggapnya sebagai bentuk niat dan dorongan spiritualitas jiwa untuk mewujudkan cita dan anganya.
Begitulah mutiara-mutiara yang tak selamanya harus mencarinya di lautan, tapi dengan bersilaturrahim kita juga mendapatkan mutiara-mutiara itu dalam ujud lainya. Suatu ujud yang membuat kita ingat lagi kepada tuhan dan nikmatnya. Trimakasih mamah Nifah. Malam ini sholat isya’ ku nikmat sekali. Mungkin tuhan mengingatkan aku akan keisitiqomahan dalam sholat lewat kawan yang tadi ku telpon berada di rumah kosan milik adiknya di Bandung.
-hp-
Kutai Kartanegara, Oktober 2012
Senin, 11 April 2011
pena fajar yang lepas dari makna
kucoba memulai mencari secarik kertas yg berisi coretan tentang alunan nada dalam nadi ku, berkisah tentang akrabnya tarzan dengan rimbanya, bernuansa segar seperti fajar yang menyirami kembang dipagi hari. terlalu remang untuk mencarinya memang, karena sekarang masihlah terlalu petang langit di luar rumah. tapi memang sangatlah butuh diriku dengan kertas-kertas tersebut. kertas-kertas yang kala itu sempat tercecer karena lupa tak terurus dengan baik, lupa belum terjilid layaknya diktat kuliah para mahasiswa, sehingga memang terlalu bebas kertas-kertas itu untuk kluyuran malam hanya untuk mencari segarnya angin malam.
cukuplah bagiku untuk membiarkan kertas-kertas itu untuk lekang dari tatapan mata jiwaku. mata jiwa yang mulai rabun karena telah lama tidak membaca kertas-kertas itu. aneh memang, kalau rabun mata karena lama tidak membaca. yang ada dalam hidup biasanya rabun karena sering membaca yang "terlalu". inilah duduk pertanyaan diriku kenapa kertas-kertas itu sangat berarti buat diriku. pandangan mata jiwa yang semakin samar dengan tanda-tanda kekuasaan Nya. tatapan lensa mata yang kurang tajam dengan nafas-nafas cinta yang terlimpahkan olehNYA. hanya sisa-sisa kertas buram yang masih ada dalam kantong tas rangsel ku. yang tiap hari selalu ku bawa dalam keramaian pasar di kota ini. tak ada tanda dan penanda dalam kertas tersebut yang ada hanya catatan bon utang-piutang dan sebuat catatan kecil di pojok kanan bawah yang ketika dibaca berbunyi "silakan kembali ke halaman sebelumnya untuk lebih jelasnya", sedangkan halaman sebelumnya adalah kertas-kertas atau halaman-halaman yang tercecer entah kemana. pencarian terus melaju seakan kisah burung "kunthul" yang bermigrasi mencari tempat yang melimpah sumber makanan atau mencari tempat yang lebih aman dari pemangsanya.
kini benak mulai berani mengingat dimana letak kertas-kertas terakhir masih ada. kertas-kertas itu sepertinya kini memang sudah tidak ada. kalaupun dibilang ada mungkin berada pada tempat yang sangat jauh. mungkin sudah digunakan pedagang untuk membungkus pisang goreng atau cabe dan bawang merah yang dijualnya. lantas bagaimana dengan matajiwa ini, kertas-kertas sangat berarti buat mata ini. kenapa otak dan hati ini tidak mencoba untuk mengingat isinya, kenapa hanya mencari dan mencari kertas-kertas itu yang kini keberadaanya entah kemana. mungkin dengan mengingat tulisannya dan nanti memahatnya di batuan jiwa ini, yang ada bukan lagi mata jiwa yang rabun. tetapi jiwa-jiwa yang sangat keras ini menjadi lebih lunak dan cair. dan pahatan-pahatan itu akan menjadi ayat-ayat seperti pada kitab suci, yang senantiasa dibacanya disetiap selesai beribadah dan yang susah akan tercecer lagi seperti yang lalu.
oleh : hp
cukuplah bagiku untuk membiarkan kertas-kertas itu untuk lekang dari tatapan mata jiwaku. mata jiwa yang mulai rabun karena telah lama tidak membaca kertas-kertas itu. aneh memang, kalau rabun mata karena lama tidak membaca. yang ada dalam hidup biasanya rabun karena sering membaca yang "terlalu". inilah duduk pertanyaan diriku kenapa kertas-kertas itu sangat berarti buat diriku. pandangan mata jiwa yang semakin samar dengan tanda-tanda kekuasaan Nya. tatapan lensa mata yang kurang tajam dengan nafas-nafas cinta yang terlimpahkan olehNYA. hanya sisa-sisa kertas buram yang masih ada dalam kantong tas rangsel ku. yang tiap hari selalu ku bawa dalam keramaian pasar di kota ini. tak ada tanda dan penanda dalam kertas tersebut yang ada hanya catatan bon utang-piutang dan sebuat catatan kecil di pojok kanan bawah yang ketika dibaca berbunyi "silakan kembali ke halaman sebelumnya untuk lebih jelasnya", sedangkan halaman sebelumnya adalah kertas-kertas atau halaman-halaman yang tercecer entah kemana. pencarian terus melaju seakan kisah burung "kunthul" yang bermigrasi mencari tempat yang melimpah sumber makanan atau mencari tempat yang lebih aman dari pemangsanya.
kini benak mulai berani mengingat dimana letak kertas-kertas terakhir masih ada. kertas-kertas itu sepertinya kini memang sudah tidak ada. kalaupun dibilang ada mungkin berada pada tempat yang sangat jauh. mungkin sudah digunakan pedagang untuk membungkus pisang goreng atau cabe dan bawang merah yang dijualnya. lantas bagaimana dengan matajiwa ini, kertas-kertas sangat berarti buat mata ini. kenapa otak dan hati ini tidak mencoba untuk mengingat isinya, kenapa hanya mencari dan mencari kertas-kertas itu yang kini keberadaanya entah kemana. mungkin dengan mengingat tulisannya dan nanti memahatnya di batuan jiwa ini, yang ada bukan lagi mata jiwa yang rabun. tetapi jiwa-jiwa yang sangat keras ini menjadi lebih lunak dan cair. dan pahatan-pahatan itu akan menjadi ayat-ayat seperti pada kitab suci, yang senantiasa dibacanya disetiap selesai beribadah dan yang susah akan tercecer lagi seperti yang lalu.
oleh : hp
Selasa, 04 Januari 2011
Jadilah Dirimu, Bukan Orang Lain
"Jangan Menyerah, Jadilah Dirimu. Karena Hidup Terlalu Pendek Untuk Jadi Orang Lain"
Status pada facebook seorang teman yang baru di update kurang lebih tiga jam yang lalu. "do not give up,be your self". terlintas dalam pikiran saya, cukup menarik apabila kalimat ini saya telisik secara sederhana di tengah kesibukan saya dalam melengkapi literature dan pustaka proposal penelitian saya. Kecenderungan manusia dengan apa dan siapa yang ia gandrungi membuat seorang manusia terkadang mengikuti hal tersebut. Memang apa yang ada dalam diri seseorang, terkadang tidak terlihat dan tidak dikembangkan oleh yang punya. Apa yang ada pada orang lain terlihat lebih menawan dan menarik untuk dilakoni. Kalau boleh jujur, ketika saya mengalami hal itu hanya rasa gundah dan risau yang ada dalam benak pribadi. Selalu dan terus untuk ingin seperti orang lain. Ketidaksesuaian pada diri terhadal hal yang kita inginkan dari orang lainlah yang membuat diri ini risau.
Sebuah kisah fiktif dari Andrie Wongso untuk memberikan analogi tidak percaya diri pada diri pribadi. “ Di puncak sebuah mercusuar, tampak lampu mercusuar yang gagah dengan sinarnya menerangi kegelapan malam. Lampu itu menjadi tumpuan perahu para nelayan mencari arah dan petunjuk menuju pulang.
Dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga mercusuar, sebuah lampu minyak setiap malam melihat dengan perasaan iri ke arah mercusuar. Dia mengeluhkan kondisinya, “Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang berada di dalam rumah yang kecil, gelap dan pengap. Sungguh menyedihkan, memalukan, dan tidak terhormat. Sedangkan lampu mercusuar di atas sana, tampak begitu hebat, terang dan perkasa. Ah….Seandainya aku berada di dekat mercusuar itu, pasti hidupku akan lebih berarti, karena akan banyak orang yang melihat kepadaku dan aku pun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya.”
Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, petugas mercusuar membawa lampu minyak untuk menerangi jalan menuju mercusuar. Setibanya di sana, penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di samping lampu mercusuar. Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia bisa bersanding dengan mercusuar yang gagah. Tetapi, kegembiraannya hanya sesaat. Karena perbandingan cahaya yang tidak seimbang, maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan lampu minyak. Bahkan, dari kejauhan si lampu minyak hampir tidak tampak sama sekali karena begitu lemah dan kecil.
Saat itu, lampu itu menyadari satu hal. Ia tahu bahwa untuk menjadikan dirinya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat, yakni di dalam sebuah kamar. Entah seberapa kotor, kecil dan pengapnya kamar itu, tetapi di sanalah lebih bermanfaab. Sebab, meski nyalanya tak sebesar mercusuar, lampu kecil itu juga bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain. Lampu kini tahu, sifat iri hati dan risau karena selalu membandingkan diri dengan yang lain, cenderung mengikuti yang lain justru membuat dirinya tidak bahagia dan memiliki arti.
Dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga mercusuar, sebuah lampu minyak setiap malam melihat dengan perasaan iri ke arah mercusuar. Dia mengeluhkan kondisinya, “Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang berada di dalam rumah yang kecil, gelap dan pengap. Sungguh menyedihkan, memalukan, dan tidak terhormat. Sedangkan lampu mercusuar di atas sana, tampak begitu hebat, terang dan perkasa. Ah….Seandainya aku berada di dekat mercusuar itu, pasti hidupku akan lebih berarti, karena akan banyak orang yang melihat kepadaku dan aku pun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya.”
Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, petugas mercusuar membawa lampu minyak untuk menerangi jalan menuju mercusuar. Setibanya di sana, penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di samping lampu mercusuar. Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia bisa bersanding dengan mercusuar yang gagah. Tetapi, kegembiraannya hanya sesaat. Karena perbandingan cahaya yang tidak seimbang, maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan lampu minyak. Bahkan, dari kejauhan si lampu minyak hampir tidak tampak sama sekali karena begitu lemah dan kecil.
Saat itu, lampu itu menyadari satu hal. Ia tahu bahwa untuk menjadikan dirinya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat, yakni di dalam sebuah kamar. Entah seberapa kotor, kecil dan pengapnya kamar itu, tetapi di sanalah lebih bermanfaab. Sebab, meski nyalanya tak sebesar mercusuar, lampu kecil itu juga bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain. Lampu kini tahu, sifat iri hati dan risau karena selalu membandingkan diri dengan yang lain, cenderung mengikuti yang lain justru membuat dirinya tidak bahagia dan memiliki arti.
Begitulah kira-kira kisah lampu minyak, pada akhirnya dia sadar bahwasannya sesuatu yang ada pada dirinya walaupun hal itu kecil dan sepele bahkan kadang tidak berguna bagi orang lain tetapi yakin pasti mempunyai arti dan guna pada situasi dan kondisi nya. Bagi saya, kalau saya menjadi orang lain lantas siapa yang menjadi SAYA?!! Itulah pada intinya, padahal sekecil apapun keberadaan saya dan kontribusi saya pada lingkungan saya pasti ada guna tersendiri.
Memang bisa dibilang tidak mudah menjadi diri sendiri, cukup berat bahkan ada yang mengatakan TIDAK BISA. Dengan alasan karena sejak lahir kita sudah di “timang-timang” oleh orang tua kita kalau kita nantinya telah menjadi dewasa biar seperti si ini, si anu dan si si yang lain. Dalam hal ini menurut saya adalah hal yang dapat ditanggapi dengan baik. Banyak orang-orang hebat disekitar kita yang terkadang mempengaruhi penampilan bahkan pemikiran kita. Contohnya nabi Muhammad, sukarno, Voltaire, Nietzche, mohammad hatta, tan malaka, gus dur, ayu utami, pramoedya, bob sadino, ian antono, armand maulana dan bethoven serta masih banyak tokoh lainnya. Bukan untuk menjadi diri mereka, tetapi bagaiman dengan menganggap mereka sebagai referensi kita untuk membantu menemukan jati diri kita. Kita hidup perlu sebuah pedoman, tetapi pedoman itu tidak mematikan langkah kita untuk menjdi diri kita.
Oke.. jangan sungkan untuk menjadi diri sendiri. Karena hidup sebagai diri sendiri akan terasa nikmat karena dengan kondisi apapun kita dapat melakukan hal baik untuk lingkungan kita tanpa rasa risau dan gundah. lebih baik menjadi diri sendiri dari padamenjadi orang lain tetapi terbebani untuk kedepannya. Tak sulit menjadi diri sendiri,hanya tinggal mensyukuri apa yg telah dianugrahkan kepada diri kita dan tentunya terus membaca situasi dan kondisi diri dan sekitar sebagai media belajar nurani kita. Oleh : Hariadi P.
Kamis, 23 Desember 2010
Hari Mu Ibu
wanita perkasa ini diciptakan dengan semangat juang yang takkan habis dan tidak akan surut doanya kepada sang putra. tidak pernah terfikir olehnya untuk meminta kembali apa yang telah diberikan kepada sang putra. tanggal 22 desember masyarakat nusantara menyimbolkan sebagai hari ibu. 24 jam memang sangat tidak cukup untuk sekedar bernostalgia mengingat sang ibu yang ada diseberang sana. tapi sebagai wujud rasa hormat dan patuh terhadap sosok ibu penyimbolan terkadang bisa menjadikan diantara kita untuk kembali terketuk hati untuk kembali berupaya untuk selalu patuh dan hormat terhadap ibu.
coba kita sejenak baca lirik indah dari mbak melly yang bertajuk "bunda"
"Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi seragam berdiri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku s'lalu dimanja
Kata mereka diriku s'lalu ditimang
Nada-nada yang indah
S'lalu terurai darimu
Tangisan nakal bibirku
Tak 'kan jadi deritamu
Tangan halus dan suci
T'lah menangkap tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku s'lalu dimanja
Kata mereka diriku s'lalu ditimang
Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku s'lalu dimanja
Kata mereka diriku s'lalu ditimang
Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku..."
ia...memang sering kita tidak tidak sadar betapa sangat banyak yang telah diberikan oleh sang bunda kepada kita. sentuhan tangan kasarnya karena memang sang ibu adalah seorang yang kerja keras tetapi sentuhan yang diberikan kepada saya adalah sentuhan kasih sentuhan yang tidak diberikan kepada orang lain kecuali pada putranya. coba kita runut sejenak, bagaimana perjuangan sang ibu ketika awal kita dilahirkan. antara hidup dan mati nyawanya menjadi taruhan demi keberadaan sang putra. jeritan adalah doanya, rintihan adalah bahasa semangatnya karena beliau akan kedatangan tamu agungnya yaitu sang putra. saat sang putra sudah dipastikan lahir dengan selamat. ibu tersenyum dengan manis penuh dengan bahasa syukur kehadirat tuhan. itulah cuilan cerita lahinya sang putra, begitu sayang nya ibu kepada sang putra.
kemudian masih buanyak cerita lagi tentang masa bayi, masa kelas SD, smp dan sampai sekarang. ibu...ibu....semangadmu adalah teladan buat ku...
"selamat hari ibu, semoga ibu selalu sehat panjang umur dan selalu dalam tuntunan tuhan"
coba kita sejenak baca lirik indah dari mbak melly yang bertajuk "bunda"
"Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi seragam berdiri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku s'lalu dimanja
Kata mereka diriku s'lalu ditimang
Nada-nada yang indah
S'lalu terurai darimu
Tangisan nakal bibirku
Tak 'kan jadi deritamu
Tangan halus dan suci
T'lah menangkap tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku s'lalu dimanja
Kata mereka diriku s'lalu ditimang
Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku s'lalu dimanja
Kata mereka diriku s'lalu ditimang
Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku..."
ia...memang sering kita tidak tidak sadar betapa sangat banyak yang telah diberikan oleh sang bunda kepada kita. sentuhan tangan kasarnya karena memang sang ibu adalah seorang yang kerja keras tetapi sentuhan yang diberikan kepada saya adalah sentuhan kasih sentuhan yang tidak diberikan kepada orang lain kecuali pada putranya. coba kita runut sejenak, bagaimana perjuangan sang ibu ketika awal kita dilahirkan. antara hidup dan mati nyawanya menjadi taruhan demi keberadaan sang putra. jeritan adalah doanya, rintihan adalah bahasa semangatnya karena beliau akan kedatangan tamu agungnya yaitu sang putra. saat sang putra sudah dipastikan lahir dengan selamat. ibu tersenyum dengan manis penuh dengan bahasa syukur kehadirat tuhan. itulah cuilan cerita lahinya sang putra, begitu sayang nya ibu kepada sang putra.
kemudian masih buanyak cerita lagi tentang masa bayi, masa kelas SD, smp dan sampai sekarang. ibu...ibu....semangadmu adalah teladan buat ku...
"selamat hari ibu, semoga ibu selalu sehat panjang umur dan selalu dalam tuntunan tuhan"
Kamis, 26 Agustus 2010
Remisi : Hal yang biasa diberikan kepada rekan politisi pemerintahan
“Ini bukan hal yang luar biasa. Yang mendapatkan remisi juga bukan satu orang, tapi banyak orang. Tata cara pemberian remisi juga diatur dalam undang-undang. Itu bukan kebijakan subjektif, tapi dasar legalitasnya ada,” tegas Benny di sela-sela acara buka puasa bersama di kediaman Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/8/2010). hehehe…kemungkinan ada bebrapa orang atau mungkin banyak orang indonesia, ketika membaca atau mendengar pernyataan diatas tertawa atau mungkin malah senyum manis tapi diakhiri dengan sinis.
dikatakan pula saat itu bahwasannya hal seperti itu bukanlah yang kali pertama pada pemberian remisi kepada koruptor negara ini. sebelum aulia pohan ada tomi suharto yang melalap uang negara yang mendapatkan juga remisi atau agrasi dari pemerintah. terkesan sebuah kebanggaan tersendiri, karena hal ini adalah kewajaran. kewajaran di bawah kenormalan nalar manusia. lhawong melakukan tindakan yang tidak adil kok bangga, apa lagi dengan dalih hal ini adalah hal yang biasa. kasus ini mengindikasikan bahwasannya praktik hukum pidana di indonesia sudah tidah adil. keadilan hukum indonesia adalah melakukan ketidakadilan terhadap rakyat indonesia. rakyat yang seharusnya mendapatkan pengasihan oleh pemerintah malah dibiarkan, hanya cukup diberikan janji-janji saat pesta demokrasi (pemilu). mungkin menurut perspektif politisi indonesia saat ini seperti itu.
hal ini sangat berbalik dengan apa yang dilakukan oleh ormas islam yang memperdebatkan perlu apa tidak menyolati mayat seorang koruptor yang beragama islam. saya kurang tahu perdebatan ini bermula dati pantas apa tidak mayat seorag koruptor disolati, karena saya kurang mendalami syariah islam. tapi betapa enaknya menjadi seorang koruptor, yang membawa lari uang rakyat yang kemudian menikmati harta tersebut diatas penderitaan rakyat miskin indonesia. adapun nanti ketahuan dia adalah koruptor paling cuman dipenjara bebrapa hari saja, mungkin lebih ringan hukumannya dibanding maling ayam di kampung. dan nanti saat ajal tiba alias mati masih banyak orang yang mendoakan untuk kesalahannya diampuni oleh tuhan.
dilain pihak yaitu Indonesia Corruption Watch (ICW) menyatakan Pemberian remisi terhadap terpidana koruptor dianggap mencederai upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. ICW mendesak agar kebijakan pengurangan hukuman atau remisi bagi terpidana kasus korupsi dihapuskan. Koordinator ICW Danang Widoyoko, dalam aksi petisi keprihatinan di pelataran Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Minggu (22/8/2010), menegaskan, korupsi merupakan tindak kejahatan luar biasa yang penanganan hukumnya juga tidak bisa disamakan dengan kejahatan biasa. meskipun korupsi adalah tindakan kejahatan yang digolongkan luar biasa, tetapi penanganan pidananya sangat lembek. tidak berbeda dengan pidana tindakan kejahatan biasa. kata Danang ” di penjara juga mendapat kan remisi” kurang lebih seperti itu.
banyak warta yang menyatakan, aulia pohan dan Cs mendapatkan remisi karena mereka mempunyai hubungan dekat (besan) kepada sang presiden. bebrapa usaha dari pembantu presiden menyatakan bahwasannya tidak ada keterlibatan presiden dalam pemberian remisi ini. tetapi saya yakin rakyat indonesia tidak percaya dengan pernyataan ini. pemberian remisi kepada pelaku tndak pidana korupsi membuat hukum indonesia yang cidera. kepercayaan rakyat indonesia kepada hukum indonesia semakin tipis atau mungkin sudah tidak peduli seperti itu, karena hal itu sangat sering dilakukan oleh pelaku hukum indonesia.
entah apa yang dapat kita perbuat pada hukum negara indonesia tercinta ini. saya hanya berharap ketegasan hukum kepada para pidana hukum sesuai dengan apa yang dia lakukan. tidak boleh lagi ada pemberian keringanan hukuman terhadap koruptor seperti yang baru-baru ini terjadi. Ini kejahatan luar biasa, tentu penanganannya harus luar biasa juga. dan kesalahan yang besar apabila ditindak dengan tindakan hukum yang sekadar, seperti yang dilakukan baru-baru ini merupakan kejahatn yang paling sadis di negeri ini. karena nerlipat-lipatlah kejahatan yang dilakukan.
opini : hariadi p.
dikatakan pula saat itu bahwasannya hal seperti itu bukanlah yang kali pertama pada pemberian remisi kepada koruptor negara ini. sebelum aulia pohan ada tomi suharto yang melalap uang negara yang mendapatkan juga remisi atau agrasi dari pemerintah. terkesan sebuah kebanggaan tersendiri, karena hal ini adalah kewajaran. kewajaran di bawah kenormalan nalar manusia. lhawong melakukan tindakan yang tidak adil kok bangga, apa lagi dengan dalih hal ini adalah hal yang biasa. kasus ini mengindikasikan bahwasannya praktik hukum pidana di indonesia sudah tidah adil. keadilan hukum indonesia adalah melakukan ketidakadilan terhadap rakyat indonesia. rakyat yang seharusnya mendapatkan pengasihan oleh pemerintah malah dibiarkan, hanya cukup diberikan janji-janji saat pesta demokrasi (pemilu). mungkin menurut perspektif politisi indonesia saat ini seperti itu.
hal ini sangat berbalik dengan apa yang dilakukan oleh ormas islam yang memperdebatkan perlu apa tidak menyolati mayat seorang koruptor yang beragama islam. saya kurang tahu perdebatan ini bermula dati pantas apa tidak mayat seorag koruptor disolati, karena saya kurang mendalami syariah islam. tapi betapa enaknya menjadi seorang koruptor, yang membawa lari uang rakyat yang kemudian menikmati harta tersebut diatas penderitaan rakyat miskin indonesia. adapun nanti ketahuan dia adalah koruptor paling cuman dipenjara bebrapa hari saja, mungkin lebih ringan hukumannya dibanding maling ayam di kampung. dan nanti saat ajal tiba alias mati masih banyak orang yang mendoakan untuk kesalahannya diampuni oleh tuhan.
dilain pihak yaitu Indonesia Corruption Watch (ICW) menyatakan Pemberian remisi terhadap terpidana koruptor dianggap mencederai upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. ICW mendesak agar kebijakan pengurangan hukuman atau remisi bagi terpidana kasus korupsi dihapuskan. Koordinator ICW Danang Widoyoko, dalam aksi petisi keprihatinan di pelataran Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Minggu (22/8/2010), menegaskan, korupsi merupakan tindak kejahatan luar biasa yang penanganan hukumnya juga tidak bisa disamakan dengan kejahatan biasa. meskipun korupsi adalah tindakan kejahatan yang digolongkan luar biasa, tetapi penanganan pidananya sangat lembek. tidak berbeda dengan pidana tindakan kejahatan biasa. kata Danang ” di penjara juga mendapat kan remisi” kurang lebih seperti itu.
banyak warta yang menyatakan, aulia pohan dan Cs mendapatkan remisi karena mereka mempunyai hubungan dekat (besan) kepada sang presiden. bebrapa usaha dari pembantu presiden menyatakan bahwasannya tidak ada keterlibatan presiden dalam pemberian remisi ini. tetapi saya yakin rakyat indonesia tidak percaya dengan pernyataan ini. pemberian remisi kepada pelaku tndak pidana korupsi membuat hukum indonesia yang cidera. kepercayaan rakyat indonesia kepada hukum indonesia semakin tipis atau mungkin sudah tidak peduli seperti itu, karena hal itu sangat sering dilakukan oleh pelaku hukum indonesia.
entah apa yang dapat kita perbuat pada hukum negara indonesia tercinta ini. saya hanya berharap ketegasan hukum kepada para pidana hukum sesuai dengan apa yang dia lakukan. tidak boleh lagi ada pemberian keringanan hukuman terhadap koruptor seperti yang baru-baru ini terjadi. Ini kejahatan luar biasa, tentu penanganannya harus luar biasa juga. dan kesalahan yang besar apabila ditindak dengan tindakan hukum yang sekadar, seperti yang dilakukan baru-baru ini merupakan kejahatn yang paling sadis di negeri ini. karena nerlipat-lipatlah kejahatan yang dilakukan.
opini : hariadi p.
Langganan:
Postingan (Atom)


