Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 April 2014

Air

Waktu itu rambutku masih di bawah pundak, di enclave Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) tempatnya. Masyarakat di dalam enclave nyaris mandiri energi. Bola lampu 5 watt berbinar bukan dari aliran listrik PLN. Tivi tabung 14 inci di balai menyiarkan liputan 6 juga bukan dari kabel yang disambung oleh PLN. Deras aliran air dari sumber gunung halimun tidak dibiarkan mengalir saja. Selain untuk kebutuhan dapur dan MCK, air itu digunakan untuk memutar baling-baling turbin yang merubahnya menjadi energi listrik. Memang belum mampu nonton sinetron tivi pada setiap rumah, tapi mereka mampu melihat senyum anak-anak pada malam hari lewat binar bola lampu 5 watt yang menggantung di blandar rumah.

Air adalah material alam yang dibutuhkan setiap makluk di bumi. Tak hanya yang mempunyai ginjal, proses mineralisasi batuan juga sangat dipengaruhi air. Bahkan seperti listrik yang dimanfaatkan di masyarakat enclave TNGHS juga menggantungkan air sebagai pemicu gerak untuk baling-baling turbin.

Air adalah sumber kehidupan. Siapa yang akan menyanggah adagium itu? Rumit bagi siapapun yang akan menolaknya. Kenyataan menunjukan, setiap hari tubuh kita butuh asupan air minum minimal 2 liter. Seenggaknya hal itu yang sangat mudah untuk mengakui urgensi dari keberadaan air. Bahkan amoeba yang hanya memiliki satu sel pun juga memerlukan air untuk proses membelah diri. Kemarau yang defisit air dan musim hujan yang menyebabkan air setinggi dada orang dewasa di gang kelurahan ibu kota menunjukan keberadaan air kini yang sudah tidak seimbang. Beberapa penyebabnya adalah laju degradasi dan deforestasi yang sangat cepat di dua dekade belakangan ini.

Urgensi keberadaan hutan sangat berpengaruh pada siklus air. Bumi yang sebelumnya menyerahkan tanggung jawab penyimpanan air di lumbung yang namanya hutan, kini lumbung air tersebut terus tergerus oleh pihak yang mengatasnamakan kemajuan zaman dan modernitas. Illegal logging, illegal mining, perumahan dan perkebunan yang tak hirau pada perbaikan ekologis sangat mendukung pada berkurangnya dimensi lumbung air.

Bencana yang disebabkan oleh siklus air yang tak tertangani dengan baik seperti banjir, tanah longsor bahkan kekeringan seperti yang terjadi di daerah jawa saat musim kemarau. Bencana-bencana ini menjadi berita utama pada setiap media massa. Dan kebanyakan air lah yang menjadi kambing hitam dari bencana-bencana tersebut. Padahal bila kita mau mengakui bahwa bencana-bencana tersebut adalah karena ulah pengelolaan lingkungan yang hanya sekedar sebegai pelengkap administrasi untuk memuluskan upaya eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan.

Kembali lagi ke saat rambutku masih di bawah pundak dan pas berada di enclave gunung halimun. Melihat upaya masyarakat hutan adalah mengingat dimana kemandirian energy sebenarnya bisa digapai oleh Indonesia raya. Sumber daya air yang berlimpah di negeri ini bisa menggantikan pelita lawas yang sudah aus. Air saat digunakan dengan baik maka akan menghemat energy dan bahkan menghasilkan energy.

Air memang sangat erat hubunganya dengan energy, maka dari itu di tahun ini, tahun 2014, peringatan hari air sedunia atau world water day bertemakan water and energy. World water day merupakan bentuk kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat internasional akan pentingnya air. World water day mulai ada sejak tahun 1993 yang di inisiasi oleh PBB. Dan sampai tahun ini setiap tahunya selalu diadakan peringatan demi pengelolaan air yang lestari.

Saat ini, tahun ini yang rambutku sudah di atas pundak bahkan nyaris tak menyentuh daun kuping, masyarakat dunia menyerukan bahwa air sangat erat hubunganya dengan energy. Hampir semua sumber energy membutuhkan air untuk prosesnya bahkan air juga dapat menjadi bahan utama untuk menghasilkan energy seperti saat rambutku masih di bawah pundak saat berada di enclave Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Hp


Tenggarong, Maret 2014

Rabu, 22 Mei 2013

Total Residu Terlarut


Masih terjaga bersama waktu. Tak hanya waktu, akhir-akhir ini selain kopi dan kotak putih ada faktor lagi yang menjadi kawan dekat, jarak. Begitupun sebenarnya saya berseteru dengan jarak, tapi saya jadi mengerti apa makna dari kilometer dan kedekatan. Ini masih terlalu pagi, tak baik terus berseru pada jarak. Oke, saya hanya ingin bercerita tentang rekan dan yang intim pada rekan saya.

Sebenarnya waktu itu saya basa-basi ngajak dia ngopi di sebuah kedai. Di kota ini, kota yang baru saya akrabi, lebih sering ngopi sendiri. jarang dari rekan baru saya disini yang sehobi dengan melewati setiap menit dalam jam-jam di kedai. Dan saat itu, rekan saya, Dito namanya, menerima tawaran saya. Jadilah kami ngopi. Dito adalah enginer lingkungan yang dua tahun lebih dulu memulai pengalaman dalam area lingkungan tambang.

Ia pernah bilang, ketika sudah berkeluarga, ia lebih memilih tinggal di perumahan dari pada hidup di desa. Selain tertata, perumahan memberi jaminan hidup yang lebih privat. Di desa tidak seperti itu. “Di desa dalam seminggu bisa saja harus menghadiri undangan syukuran sampai sembilan kali” kata dia. Dari situ saya menilai Dito adalah teman yang cukup menghindar dari kehidupan rural, dan lebih memilih yang invidual. Saya sempat berfikir, ia adalah introvert. 

Selasa, 30 April 2013

Jenis Pioneer, Lokal dan sampai MPTS


Ada skeptis pada orang-orang yang bekerja di persemaian. Yaitu tentang tanaman pioneer. Kebanyakan mereka menganggap tanaman pioneer adalah jenis-jenis seperti sengon, sengon buto dan akasia-kebanyakan berarti bukan semuanya lho yaa, ada sebagian juga yang sudah mengerti. Pioneer sendiri adalah tanaman yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh pada awal suksesi dan mempunyai sifat cepat tumbuh. Sengon, akasia merupakan tanaman pioneer, tapi tanaman pioneer tidak hanya itu. Misal, Trema, Nauclea, Hibiscus, Macaranga, johar (Cassia seamea) dan masih banyak contoh lainya.

Kamis, 21 Februari 2013

Fitoremediasi


Kalau kamu seorang pegawai sipil di kementerian kehutanan atau kamu penggiat kelestarian hutan atau kamu mahasiswa kehutanan, pasti kamu pernah belajar tentang pengertian hutan dan tetek bengeknya. Gampang aja sih, cukup print  saja tuh UU no 41 tahun 1999, nanti kalau ada persoalan tentang pengertian tinggal dibaca saja, hhihi. Tapi diceritaku yang ini bukan mau memberi pengantar ilmu kehutanan, hanya Prof. Cecep Kusmana dan Dr. Lailan Syaufina yang berhak dan jago untuk itu. Tulisan ini  hanya sekedar berbagi cerita tentang tumbuhan akumulator logam berat untuk membantu rehabilitasi lahan bekas tambang. Sejauh apa yang saya tahu dari literature dan sedikit apa yang saya temui dipraktik menjadi buruh di suatu perusahaan tambang.

Selasa, 12 Februari 2013

2 manusia sangar


Ini tentang cerita orang hebat dan tak jarang memasang tampang garang di daerah saya berada sekarang.

Siapa yang tak sepakat kalau Indonesia adalah Negara yang melimpah sumber daya alam. Bahkan grup music legend pop Indonesia merayakan kekayaan itu dengan lagunya, kolam susu.

“ orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman “

Itulah cuplikan sedikit syair dari Koes plus pada tahun 60an. Berbeda dengan tahun-tahun sekarang, orang-orang bakal menganggap lagu tersebut sudah tidak relevan dengan kondisi bumi pertiwi saat ini. Penebangan pohon terjadi pada setiap jengkal katulistiwa, alih lahan hutan menjadi kelapa sawit dan penambangan seakan menjadi prioritas penyelenggara negara.

Selasa, 05 Februari 2013

Tempat Sampah


 Jika kamu adalah seorang yang baru memulai karir dalam dunia kerja, dan karirmu menjanjikan dengan gaji di atas rata-rata–paling tidak menurutmu atau teman dekatmu – atau kamu adalah seorang wirausaha muda yang mempunyai income menyentuh nominal puluhan juta perbulan, atau kamu yang semata wayang anak orang kaya yang menerima warisan utuh dari orang tua, atau siapaun kamu yang sudah mulai merancang atau memilih desain rumah yang cocok untuk kamu tempatin, jangan lupa untuk pengadaan tempat sampah. Baik itu bak sampah dari plastik yang bolong-bolong, atau tampungan sampah yang nempel di pagar depan rumah dimana setiap pagi petugas kebersihan di komplek anda mengambilnya dengan gerobak.

Jumat, 01 Februari 2013

Twilight [bukan sinopsis]


Bagi para penikmat film roman, pasti tau atau malah tau banget film Twilight garapan Catherine Hardwicke hasil dari adaptasi dari novelnya Sthephine Meyer dengan judul yang serupa. Pada tayangan sepanjang kurang lebih 120 menit pada setiap chapter, adegan yang paling memaksa kelopak mata untuk tidak berkedip adalah selain saat-saat Edward dan Bella bercumbu adalah latar mereka bercumbu, taman rerumput di tengah-tengah belantara hutan temperate.

Yap, lelaki mana yang tak mengakui Kristen Stewart atau Bella Swan, nama dalam film, untuk bilang “kamfreet,,nyidam apa emaknya dulu waktu hamil yak?” atau wanita mana yang ga sepakat kalau Jacob itu Laki banget. Apa lagi saat telanjang dada, waow. Yah cuman kata-kata “ohmegot,,,,sunat dimana itu bapaknya dulu yak?” hhihii.. atau mungkin kalimat-kalimat yang senada dengan frase itulah.

Hutan Temperate Forks

Selasa, 22 Januari 2013

Banjir Ibu Kota




Pekan ke tiga Januari 2013. Ibu kota tenggelam. Tidak hanya rumah gubuk di bantaran sungai yang tenggelam, roda perekonomian juga kelelep, pakar ekonom merinci dengan kalkulator dagang dan bisnis bahwa kerugian sampai bertriliunan rupiah, bahkan Ketua APINDO menaksir kerugian mencapai 500 miliar per hari. Sekolah libur dan anak-anak gembira bermain air, walau tak semua berakhir gembira karena ada korban bocah yang terbawa arus air dan meninggal. Para sekertaris dipulangkan sebelum jam selesai kerja, karena air terus meninggi dan memaksa PLN memadamkan aliran arus listrik dan mereka tidak dapat mencetak laporan mingguanya. Pedagang bakso sementara juga berlibur, karena babi memilih lari mencari daerah yang lebih tinggi, dan tidak ada bahan. Apalagi pedagang asongan, tisu paseonya pada basah dan rokok otekan nya juga mlempem kena air.Ojek, taksi dan busway juga mandek tak beroperasi. Ojek motor masih maklum menurut saya, tapi busway yang dirancang dengan jalan yang eksklusif pun tak bergeming mesinya saat air dari kota di sebelah selatan ibu kota mengaliri ibu kota. Ibu kota lumpuh dan penyakitnya sedang kambuh.

Sabtu, 19 Januari 2013

Puntung ke-4

30 menit lewat dari pukul 12 siang. Beberapa karyawan senior maupun yang masih bau ijazah universitas, baik yang baru supervisor atau yang sudah superintendent juga manajer-karyawan kasta bawah tidak ada, maklum ini kan Negara yang sudah dikasta-kastakan, bahkan cafeteria untuk karyawan pun dipisah-pisahkan, mereka meluangkan waktu istirahat kerja di depan cafeteria perusahaan. Bagi yang on time dalam menjalankan rutinitas makan siang, pada jam segitu sudah selesai makan siang. Bagi yang workaholic kemungkinan masih berada dalam ruang kerja. Dan ada juga kloter yang pada menit dari jam segitu masih makan di cafeteria. Tiga golongan, apabila kriteria yang digunakan adalah kedisiplinan untuk makan siang.

“Pak Bob, rokokmu yang mana ?” sapa Pak Farhan keluar dari pintu cafeteria.

“Pakai rokokku saja gak papa Pak.” Sahut seorang Bapakyang masih muda tapi bukan Pak Bob. Pak Adi namanya.

Selasa, 15 Januari 2013

Tuhan Maha Baik (2)


Tuhan yang menciptakan Typha untuk kolam tailling
Seperti diciptakany Hawa untuk Adam
Mungkin persis.
Atau mungkin seperti nirwana dengan dua sejoli itu
Atau mungkin seperti yang lain juga,
Yang tak sempat terlintas dalam sirat benak.
Ahh....
Tapi sepertinya analogi itu juga kurang tepat
Bahkan salah
Nirwana memang untuk Adam dan Hawa
Dan nirwana sungguh sangat indah dan mempesona (katanya)
Typha juga untuk tailling
Tapi tailling tidak indah
Apa lagi mempesona
Sungguh tidak!

Adam dan Hawa bahagia di Nirwana
Sama. Typha tumbuh subur dan makmur di tailling
Warna hijau dan kerumunan yang rapat tergambarkan
Mungkim Typha akan lebih senang kalau di Nirwana
Tapi Adam dan Hawa tidak kalau di tailling
Gelisah dan merana itu yang mungkin tergambar
Dalam kitab terterang, sungai susu dan sungai air segar mengalir
Mengalir yang siap utk ternikmat
Berbeda
Ia.beda dengan tailing
Aliran berkandung zat toksin tinggi yang dapat mematikan
Sel dan jaringan Adam mungkin tak akan lama bertahan
Apa lagi rambut Hawa yang tergerai indah pada sebelumnya
Mungkin akan terkriting sekejap

Oh tuhan.....
Betapa engkau ciptakan Typha ini sungguh kuat lagi sabar
Lebih sabar dan tabah dari Adam dan Hawa
Mungkin nanti di nirwanamu Typha Kau letakkan
Apakah Adam dan Hawa bisa juga seperti Typha tuhan?
Ahhh....engkau selalu tidak pernah menjawab
Sesekalipun dari beribu pertanyaan
Hanya jawaban ”baca” yang pernah Kau sampaikan....

-hp-

12 Desember 2011


Sabtu, 29 Desember 2012

Hydroseeding Pada Lahan Bertebing


"Sampai hari ini Hydroseeding merupakan cara yang paling efektif dalam mereklamasi tebing"


Kendati masih ber-Kartu Tanda Mahasiswa, niat Kunti dalam dunia Lingkungan kususnya lingkungan tambang lebih dari seorang praktisi di lapangan (niatnya lho yaa…kalau terampilnya jelas praktisi lebih maknyus). Sebanyak-banyaknya literature ia unduh dari alamat web keilmuan, seperti sciencedirect.com atau ebsco.com atau disetiap repository milik perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Perpustakaan maya tersebut ia gunakan sebai-baiknya untuk melepas dahaga akan  keingintahuanya tentang lingkungan tambang. Perpustakaan maya bagi Kunti tak lain halnya dengan kedai espresso yang ia kerap singgahi. Buat Kunti, dari pada ia jalan-jalan diakhir pekan di junkfood atau sekedar cucimata di mall atau nonton di tuentiwan, ia lebih memilih berkecup-manis dengan secangkir espresso atau juga kopi tubruk yang menjadi bagian dari pasangan hidupnya. Kopi tubruk, atau kopi yang sejujur-jujurnya kopi merupakan selera number wahidnya Kunti. Bagi Kunti kopi tubruk itu nggak neko-neko, apa adanya “sederhana, sedikit berantakan, tapi jangan salahkan gue kalau lo-lo di akhirat nanti nyesel karena belum sempat menikmati kopi tubruk ini” ujar Kunti kepada kawan-kawanya kala mereguk kopi tubruk dalam kedai. Kopi tubruk, mungkin 11-12 dengan kepribadian Kunti.

Sabtu, 01 Desember 2012

Reklamasi: Optimis Kunti di ranah Tambang dan Lingkungan


“Bukan suatu yang mustahil untuk dapat berjalan seiring antara pengusahaan sumber daya alam dengan perbaikan lingkungan

Dua tahun yang lalu, saat itu Kunti berada di dalam gedung pertemuan dengan papan nama yang terpapang di depan “Auditorium Silva-Pertamina”, milik Fakultas Kehutanan IPB. Kunti, atau nama lengkapnya Dewi Kunti adalah mahasiswa tingkat akhir yang siap mengikuti kuliah untuk memungut ceceran pengetahuan-pengetahuan yang tercurah dari pelantang suara dalam gedung. Pada moment tersebut Kunti beserta kawan-kawan lainya sedang mengikuti kuliah pembekalan Praktek Kerja Profesi. Salah satu pengisi materi adalah Yang terhormat Bapak Direktur Teknik dan Lingkungan Kementerian ESDM RI. Bapak Yang Terhormat membuka materi kuliah dengan memaparkan peran sektoral pertambangan dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Menururt Bapak Yang Terhormat, pertambangan menyumbangkan lebih dari 15 % sumber APBN Negara. “Waooww.. (tak pake gaya koprol tentunya, karena waktu itu belum trendnya, heuheu..)” gumam Kunti, menurutnya itu adalah prosentase yang sangat besar mengingat sumber APBN berasal dari buuanyak sektoral termasuk didalamnya adalah kehutanan, pertanian, perhubungan, bahari, pariwisata dan masih banyak sektor lainya.
Di sisi lain, pertambangan yang meningkatkan pembangunan ekonomi Negara juga memberikan dampak negative yang perlu diperhatikan dan ditindak lanjuti. Dampak negative dari pertambangan adalah kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan tersebut seperti deforestasi, degradasi hutan, kematian satwa, meningkatnya erosi tanah, pencemaran air tanah, meningkatnya kemasaman air sungai dan lain sebagainya. Kerusakan lingkungan tersebut adalah tanggung jawab pelaku penambangan beserta pemangku kepentingan lainya, seperti pemerintah.
Mengapa penambangan merusak lingkungan? Begini ceritanya… penambangan mineral seperti batu bara dilakukan dengan metode open pit/surface mining yang berarti penambangan terbuka. Selain itu juga ada metode bawah tanah atau underground mining.  Kriteria utama untuk menentukan dalam pemilihan metode penambangan  adalah besarnya perbandingan over burden (lapisan penutup) yang harus diambil  dengan volume batubara yang dapat ditambang. Perbandingan ini akrab disapa dengan istilah striping ratio. Selama perbandingan ini masih memberikan marjin keuntungan yang dapat diterima, maka pertambangan terbuka masih dianggap patut dilakukan. Nahh…. Dengan metode tambang terbuka yang dilakukan kebanyakan perusahaan tambang, vegetasi yang berada di atas akan dikupas terlebih dulu. Kegiatan ini biasa disebut dengan land clearing. Land clearing selesai, langkah berikutnya adalah pengupasan dan penyelamatan tanah (soil removal) selanjutnya adalah pengupasan over burden. Over burden diankut  (overburden removal) dan ditimbun di disposal/waste dump. Setelah batubara terekspose, maka batubara akan ditambang dan di angnkut ke stockpile. Kala penambangan batubara pada satu pit selesai semua, after kondisi inilah lahan yang awalnya bervegetasi menjadi lahan yang semrawut kaya nasi mawut. Antara nasi, mi dan bahan lainya campur aduk.
***
Kalau kata Peraturan Menteri ESDM no 18 Tahun 2008, Reklamasi merupakan  kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukanya. Mendengar pak menteri ESDM ber ujar, Pak menteri Kehutanan ga mau kalah dan pada 3 tahun kemudian, tahun 2011 beliau mengeluarkan Peraturan Menteri Kehutanan no P4 sing unine yoiku reklamasi hutan adalah usaha untuk memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal sesuai peruntukanya. Dua peraturan menteri tersebut hanya beda pada objek yang diganggu dan diperbaiki. Permen ESDM hanya menyebutkan objek lahan, untuk Permenhut menyebutkan lahan dan vegetasi untuk diperbaiki setelah terganggu. Perihal predikat kedua peraturan menteri itu sama, yaitu “untuk memperbaiki lahan setelah terganggu”. Pada intinya adalah, reklamasi itu merupakan upaya memperbaiki lahan yang rusak akibat kegiatan pertambangan agar kembali berfungsi sesuai tata gunanya. Jika sebelumnya adalah kawasan hutan maka reklamasi ditunjukan menjadi hutan kembali dan jika lahan yang ditambang adalah area pertanian makan harus dikembalikan menjadi lahan yang layak digunakan untuk bertani.
***
30 menit berlalu. Kunti masih khidmat dalam mengikuti kuliah pembekalan, walaupun sesekali dan lebih beberapa kali juga diselingi dengan angguk-angguk kepala dengan mata mendadak sipit dan memerah….maklum kunti demen begadang di malam harinya entah sibuk ngerjain tugas laporan atau hanya sekedar nongkrong di dahan pohon Ficus,,seyemm…namanya juga kunti, heuheuheu.
Lanjut lagi dengan pemaparan materi oleh Bapak Yang Terhormat Direktur Teknik dan Lingkungan Kementerian ESDM mengenai langkah dan tahapan reklamasi pasca pengambilan material batubara. Sudah disinggung diatas bahwasanya kondisi lahan setelah penambangan sangat ancur-seancur-ancurnya. Tidak bersoil hanya batu-batu yang liat dan padat bercampur serpihan batubara dimana material tersebut kandungan tosiksitasnya tinggi. Aluminium (Al+), Besi (Fe), dan mineral Sulfida lainya terkandung didalamnya. Kondisi inilah yang memicu terjadinya Air Asam Tambang (AAT). (Perihal AAT ini akan disampaikan pada sesi berikutnya )
Yang pertama akan dilakukan dalam reklamasi adalah landscaping atau penataan lahan sedemikan hingga memiliki kontur yang stabil dan proporsional dengan bentang alam sekitarnya. Lahan yang sudah rapi, selanjutnya dilakukan Soil spreading. Soil spreading bertujuan untuk media tumbuh tanaman revegetasi. Penggaruan atau ripping menggunakan  alat berat bertujuan untuk perbaikan sifat fisik tanah, mengingat kondisi tanah setelah penambangan memiliki sifat di bawah baku mutu secara fisik. Perbaikan sifat kimia dan biologi tanah dilakukan dengan penambahan pupuk organic beserta material-material lainya. Aplikasi asam humat juga diperlukan untuk merangsang perkembangbiakan mikroba dalam tanah. Proses perbaikan sifat tanah biasa disebut dengan soil amelioration atau ada juga yang menyebut soil amendment.
Disela-sela mempresentasikan materi, Bapak Yang  Terhormat suka memberikan timbal balik dari apa yang dia sampaikan. Para mahasiswa pun aktif dalam memberikan pendapat mengenai reklamasi ini. Tak terkecuali juga Kunti.
Tahap berikutnya adalah penanaman. Untuk tahapan ini mah sarapan sehari-hari para peserta kuliah. FYI, mahasiswa peserta kuliah hamper semua aktif dalam kegaitan Himpunan 1 yang hobi menanam juga merawat batita Swietenia juga Rhizophora. Salah satu contoh project menanam dan merawat Rhizophora oleh mereka ada di muara angke dipinggir Tol Soedijatmo Jakarta Utara 2. Kembali ke materi Bapak Yang Terhormat. Penanaman pada area revegetasi menggunakan jarak maksimal 4x4 m 3. jenis yang digunakan adalah jenis pioneer dari Family Fabaceae. Pemilihan ini didasarkan pada ketahanan jenis tersebut yang dapat tumbuh pada lahan kritis, selain itu jenis dari keluarga Fabaceae mempunyai kemampuan untuk menambah Nitrogen dan Phospor dalam tanah. Contoh dari jenis ini adalah Falcataria moluccana, Gliricidea sp, Enterelobium cyclocarpum, Samanea saman dan masih banyak lainya. Selain pioneer Fabaceae, bisa juga dengan menggunakan pioneer local setempat. Contoh pioneer local di area tambang di Kalimantan adalah Trema sp, Malotus sp, Macaranga sp dan Nauclea sp. Dalam aplikasi tanaman pioneer tidak dianjurkan menggunakan Invasive Alien Species (IAS)  seperti Acacia mangium. IAS tidak dianjurkan karena mempunyai potensi penyebaran yang sangat cepat, sehingga penyebaranya tidak terkontrol dan menghambat perkembangan tanaman local setempat. Selain itu, beberapa IAS juga mempunyai sifat allelopati.
Pada jeda setiap kalimat yang terburai dari Bapak Yang Terhormat, Lionel angkat tangan dan berinterupsi untk bertanya. Lionel adalah kawan kelas Kunti yang jatuh hati dengan sepak bola. Selain itu dia memang jago cetak gawang di lapangan futsal. Lionel pecinta sepak bola objektif, bukan fanatik. Dia tidak punya klub idaman, beda dengan pecinta bola fanatik yang cinta mati-matian terhadap satu klub walaupun klubnya sedang terpuruk seperti habis dilindas dump truk. Tetapi dia faham klub mana yang pada musim depan bakal calon juara champion league. Lionel juga pernah membela klub futsal dan sepak bola kampusnya untuk berlaga di level nasional. “setelah mengikuti apa yang disampaikan oleh Bapak, menurut saya pertambangan seharusnya tidak dilakukan” prolog dari Lionel “mengapa?,, karena kawasan hutan yang tertambang akan lebih banyak merugikan. Selain deforestasi, juga kerusakan lahan, matinya satwa, hilangnya lahan pertanian masyarakat dan lain sebagainya” lanjut argument lionel “menurut bapak, dimana titik kesetimbangan dari keuntungan yang diambil dari penambangan ? dengan melihat mahakehancuran akan meratap didepan kita setelah penambangan dilakukan,,,,,” pertanyaan lionel sangat berdasar pada sebab-akibat perilaku yang dibasiskan antroposentris. Maklum, selain pecinta bola.. Lionel juga seorang aktivis di kampus. “Terimakasih atas pertanyaan dari adik” sapa Bapak Yang Terhormat pada Lionel dengan Adik, maklum tadi Lionel tidak memperkenalkan namanya terlebih dulu. Penambangan batubara atau mineral lainya mempunyai fungsi yang penting untuk mengembangkan kualitas hidup kita. Listrik yang setiap hari dapat kita nikmati bahan bakunya semua bersumber dari bahan tambang, seperti infrastruktur yang dari logam dan bahan galian lainya, bahan energy dari batubara atau BBM serta BBG semua itu dari bahan tambang dari perut bumi. “Kursi yang pada saat ini adik-adik gunakan itu juga dari bahan galian atau tambang, yaitu besi dan nikel” papar detail Bapak Yang Terhormat kepada peserta kuliah. Itulah sebab lain kenapa kita menambang, selain untuk menyumbang APBN juga untuk kemaslahatan umat. Perihal akibat yang ditimbulkan oleh penambangan, itulah fungsi keberadaan para Rimbawan dan Lingkunganis (jujur ini asal kasih nama untuk para penggiat lingkungan. heuheu... Lingkunganis). Dengan konsistensi dan progresivitas kinerja serta kerjasama dari semua pemangku kepentingan untuk memperbaiki hutan dan lingkungan. Miner, Geologist, Pengusaha, Pemerintah, LSM dan masyarakat juga harus berperan dalam suatu upaya tersebut. Bukan suatu yang mustahil untuk dapat berjalan seiring antara pengusahaan sumber daya alam dengan perbaikan lingkungan. Kita masih punya harapan untuk masih bersahabat dengan alam kita. “Saya yakin Pak, karena keduanya itu adalah kebutuhan kita dan nya” tangkas Kunti dengan penuh percaya diri.


1 himpunan Mahasiswa Silvikultur atau eksis dengan asma Tree Grower Community
2 kegiatan Save Mangrove For Our Earth 2010
3 dalam Permenhut no. P4 tahun 2011

Gambar Pemeliharaan tanaman revegetasi

-hp-
                                                                                                                                                            Kutai Kartanegara, Desember 2012

Selasa, 10 Januari 2012

Angin kencang, Pohon perindang tumbang


2 pekan belakangan ini  media dan masyarakat Jakarta riuh-ramai karena terjangan angin kencang dan hujan lebat yang menimbulkan puluhan pohon tumbang. Telah terhitung oleh Dinas Pertamanan Jakarta 46 Pohon tumbang karena angin kencang tersebut.
Kerugian material antara lain adalah 14 unit kendaraan roda 4, 1 unit mobil patroli ford focus dan 4 unit roda dua rusak berat. Korban meninggal dunia ada satu orang akibat tersengat listrik dari papan reklame yang jatuh di jalan arjuna selatan, didepan kampus Esa Unggul (VIVAnews, jumat 6 januari 2012)
Berita dari berbagai media, pohon tumbang dikarenakan oleh terpaan angin kencang. Pohon yang tumbang tersebut  adalah jenis Angsana (Pterocarpus indicus). Kejadian tumbangnya pohon Angsana  ini sebenarnya sudah lama ada, contohnya pada tahun 2009 di Kuningan depan kantor PDAM Tirta Kemuning Kuningan.
Angsana pada awalnya dipilih oleh Dinas Pertamanan karena pohon ini cepat tumbuh, mempunyai struktur tajuk yang rimbun dan besar, sehingga yang diharapkan pohon ini memberikan kerindangan di padat suasana kota. Tetapi di lain sifat rindang yang dimiliki Angsana, Angsana mempunyai sifat kayu yang tidak kuat dan akar yang cenderung lemah mencengkram tanah. Akar yang terbentuk dari perbanyakan vegetative menjadikan akar pohon cenderung tumbuh lateral dan tidak adanya akar tungang yang kuat.
Itulah sebabnya banyak tanaman angsana tumbang karena terpaan hujan deras dan angin kencang di perkotaan.
Lantas bagaimana untuk meminimalisir terjadinya jatuh korban materi dan jiwa akibat tumbangnya pohon pada jalur hijau?
Atau. Bagaimana memberikan aman kepada jiwa pohon yang ditanam pada jalur hijau? karena sebenarnya yang menjadi korban awal adalah pohon itu sendiri.
Sepertinya akan terlalu naïf kalau kita menyalahkan pohon Angsana yang tidak kuat dan memakan korban, lalu menebang dan menggantinya dengan jenis pohon lain yang lebih kuat dan melindungi.
Mungkin lebih baiknya kita lakukan sesuatu yang dapat memberi aman kepada Angsana dan pohon lainnya yang ada pada jalur hijau perkotaan serta memberikan keamanan dan kenyamanan manusia dalam menggunakan jalan raya perkotaan. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeliharaan untuk pohon yang sudah ada, seperti langkah-langkah berikut :
1.       Pemangkasan pada percabangan yang terlalu rimbun. Pengurangan volume cabang dan ranting dapat meningkatkan keseimbangan kekuatan akar terhadap beban tajuk/pucuk yang disangga.
2.       Angsana yang sudah tua dan kropos lebih baik ditebang dan diganti dengan tanaman muda yang baru. Tanaman baru yang akan digunakan sebagai pengganti lebih baik mempertimbang fungsi pohon sebagai penahan angin, kayu kuat dan memiliki perakaran yang dalam serta kuat. Sehingga pada nantinya pohon dapat berdaya dan berhasil guna untuk penghijauan perkotaan. Seperti pohon Cemara (Casuarina spp.) yang dapat dimanfaatkan sebagai penahan angin.
3.       Sebaiknya Angsana tidak di tanam di dekat bangunan sebagai tindakan preventif terhadap resiko yang akan terjadi.
Seandainya kalau pohon itu bisa berbahasa seperti manusia Indonesia, maka dia akan bilang “akupun sebenarnya enggan hidup di tapak yang padat, yang membuat ruang akarku sangat sempit dan membuat tubuhku sangat lemah dan mudah rebah. Tetapi ini adalah keinginan manusia. Manusia yang memaksaku untuk tumbuh dan berkembang disini. Atau mungkin manusialah yang membuat tempat tumbuhku yang makin sumpek dan sesak. Sedangkan manusia selalu menuntut aku untuk memberikan nafas dan keteduhan. Cukuplah manusia. Sadar pada setara posisi kita dikemudian akan membuat alam kita lebih bersahabat dengan kita”.

Senin, 21 Maret 2011

Menelisik Benak Manusia Terhadap Alam


Menelisik Benak Manusia Terhadap Alam
Dewasa ini semakin bertambahnya detik waktu semakin bertambah juga populasi manusia di bumi. hal ini berimplikasi dengan bertambahnya juga daya konsumsi dan eksploitasi terhadap sumberdaya alam di bumi. krisis lingkungan yang kita alami saat ini tidak lepas dari perilaku konsumtif dan eksploitatif manusia. pola fikir yang mengedepankan eksistensi manusia yang dilandasi faham antoposentrisme merupakan manifestasi manusia terhadap kerusakan alam.
Cara pandang manusia yang menyatakan bahwa hanya manusia yang mempunyai nilai, manusia yang menjadi pusat alam semesta, sementara alam semesta hanya objek untuk memuaskan keinginan manusia. hal ini adalah kesalahan cara pandang yang bersumber dari etika antroposentrinme.
Dengan kondisi tersebut, soni keraf menyatakan dalam bukunya yang berjudul etika lingkungan bahwasannya perlunya suatu etika yang tidak hanya mengedepankan manusia. etika yang menjunjung tinggi nilai interaksi antar manusia, interaksi manusia dengan alam serta etika bagaimana menumbuhkan suatu prinsip yang membangun kebaikan alam sebagai oase kehidupan manusia. dengan etika ini, alam tidak sekedar bernilai intrumental-ekonomis untuk dieksploitasi untuk kepentingan manusia.
Cebuah khazanah filosofis menawarkan pilihan terhadap cara beretika kepada alam. misalnya biosentrisme yang mengakui eksistensi moral semua makluk hidup, scientientisme yang menyatakan semua makluk hidup itu mempunyai perasaan, dan ekosentrisme yang memandang ekosistem-ekosistem dan biosfer mempunyai arti moral yang tidak tergantung kepada arti para anggotanya.
Etika lingkungan di sini dimasukan dalam sebuah disiplin ilmu dan sekaligus tatakelola hidup yang berbicara mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia serta prinsip manusia yang menjiwai perilaku manusia dalam menjalin hubungan dengan alam semesta ini.
Keberhasilan etika lingkungan melestarikan fungsi lingkungan hidup dan sumber daya yang terkandung di dalamnya tidak cukup bergantung pada perubahan perilaku individu, tetapi juga harus ada pengaturan sistem sosial dan politik yang berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, Keraf mencoba merumuskan sembilan prinsip etika lingkungan sebagai dasar pengembangan lebih lanjut dalam kaitannya kehidupan berbangsa dan bernegara serta hubungan antarbangsa (globalisasi).
Pertama, sikap hormat terhadap alam. Manusia sebagai anggota komunitas ekologis harus menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies dalam komunitas ekologis tersebut. Perwujudan nyatanya, manusia perlu memelihara, merawat, menjaga, melindungi, dan melestarikan alam beserta seluruh isinya. Kedua, prinsip tanggung jawab. Manusia dituntut untuk mengambil prakarsa, usaha, kebijakan, dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta dengan segala isinya. Berarti, kelestarian dan kerusakan alam merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.
Ketiga, solidaritas kosmis. Prinsip ini membangkitkan rasa sepenanggungan dan mendorong manusia untuk tidak merusak dan mencemari alam, seperti halnya tidak akan merusak kehidupannya sendiri. Prinsip ini berfungsi mengontrol perilaku manusia dalam batas-batas keseimbangan kosmis.
Keempat, prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam. Prinsip ini menghapus sifat diskriminasi dan dominasi manusia terhadap makhluk lainnya. Kasih sayang dan kepedulian menyadarkan bahwa semua makhluk hidup di alam ini mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat. Kelima, prinsip ”No Harm”. Prinsip ini menjadi dasar perilaku manusia untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan atau mengancam eksistensi makhluk hidup lain, sebagaimana manusia tidak dibenarkan secara moral untuk melakukan tindakan-tindakan yang merugikan sesama manusia.
Keenam, prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam. Prinsip ini melandasi pola hidup baru, menggantikan pola hidup yang materialistis, konsumtif, dan eksploitatif. Ketujuh, prinsip keadilan. Prinsip ini memasuki wilayah politik ekologi, di mana pemerintah dituntut untuk membuka peluang dan akses yang sama bagi semua kelompok masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan publik lingkungan hidup dan dalam memanfaatkan sumber daya alam serta jasa lingkungan.
Kedelapan, prinsip demokrasi. Prinsip ini selaras dengan hakikat alam, yaitu keanekaragaman dan pluralitas. Paradigma pembangunan berkelanjutan hanya mungkin diterima kalau pembangunan dipahami sebagai berdimensi plural. Kesembilan, prinsip integritas moral. Prinsip ini sangat berkaitan dengan integritas moral pejabat publik. Selama pejabat publik tidak mau bertanggung jawab atas kebijakan dan tindakannya yang merugikan lingkungan hidup, lingkungan hidup akan tetap dirugikan.
Gagasan tentang etika lingkungan yang cukup radikal ini sebenarnya sudah disajikan penulis pada buku dengan judul yang sama edisi pertama yang terbit pada 2002. Sejak saat itu buku ini menjadi salah satu referensi penting wacana dan perbincangan ilmiah pendekatan etis terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Sampai saat ini gagasan dalam buku ini masih sangat relevan karena dengan instrumen teknik lingkungan, ekonomi lingkungan, dan politik lingkungan belum juga mampu menyelesaikan krisis lingkungan. Apalagi, dalam buku revisi ini selain beberapa revisi teknis juga ditambahkan satu bab baru mengenai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai pengganti UU No 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Kamis, 02 September 2010

sikap hormat kepada alam

-->
SIKAP HORMAT TERHADAP ALAM


Teori ekosentrisme, biosentrisme, teori mengenal hak asasi alam, dan ekofeminisme adalah teori yang muncul setelah teori antroposentrisme. Teori-teori tersebut kurang lebih memiliki nilai yang beririsan, yaitu dalam komponen yang ada di alam ini manusia bukanlah komponen yang menjadi pusat (toeri antroposentris). Alam kususnya lingkungan (komponen biotic maupun abiotik) ini mempunyai posisi yang setara dengan posisi manusia.
Komunitas yang ada di alam ini tidak sebatas komunitas social saja, tetapi komunitas ekologi juga masuk dalam jajaran komunitas moral yang ada dialam ini. Hakikat manusia bukan hanya sebagai makluk social, tetapi juga sebagai manusia ekologis. Manusia tidak berinteraksi dengan manusia saja, tetapi juga dengan alam. Manusia tidak dapat hidup tanpa bersenggama dengan alam. Alam lah yang telah menyediakan segala kebutuhan manusian (dalam arti bukan mnjadikan alam sebagai tuhan).
Tetapi yang terjadi adalah dominasi penerapan teori antroposentris. Saat ini manusia masih menganggap dirinyalah yang mempunyai kekuatan tertinggi di alam ini, baik perasaan ini disengaja maupun tidak disengaja. Eksploitasi yang luar biasa telah ditunjukan oleh makluk yang bernama manusia. Utility oriented, mungkin itu yang menjadi pedoman manusia. Sebelum dirinya dan anak cucunya menghabisi alam di kanan-kirinya mungkin dia belum puas. Apabila keadaan ini tidak segera disadari dan diperbaiki, mungkin isi cerita yang ada di film 2012 akan terjadi. Seraya isi alam lulu lantah secara bergiliran dari segala penjuru arah.
Dengan kondisi itulah beretika kepada alam sangat dibutuhkan. Seperti yang telah disebutkan diatas, komunitas moral tidak hanya dibatasi oleh komunitas social, tetapi juga meliputi komunitas ekologis seluruhnya. Dan hakikat manusia bukan hanya sekedar sebagai makkluk social, melainkan juga sebagai makluk ekologis. Unsur-unsur diatas menjadi unsur pokok yang mewarnai sebuah pertanyaan kenapa kita (manusia) harus beretika kepada alam ini.
Terlepas dari cara pandang teori-teori di atas, semua teori etika lingkungan tersebut sama-sama mengakui bahwa alam semesta perlu dihormati. Bedanya dengan antroposentris adalah menghormati alam karena beranggapan bahwa kepentingan manusia bergantung pada kelestarian dan integritas alam. Sebaliknya, biosentrisme dan ekosentrisme beranggapan bahwa manusia mempunyai kewajiban moral untuk menghargai alam semesta dengan segala isinya karena manusia adalah bagian dari alam dan karena alam menpunyai nilai pada dirinya sendiri. Dengan mendasarkan diri pada teori bahwa komunitas ekologis adalah komunitas moral, setiap anggota komunitas mempunyai kewajiban moral untuk saling menghormati. Bahlam menurut DE (deep ecology), manusia pun dituntut untuk menghargai dan menghormati benda-benda yang non-hayati, karena semua benda di alam semesta mempunyai hak yang sama untuk berada, hidup dan berkembang.
Alam mempunyai hak untuk dihormati, tidak saja karena kehidupan manusia bergantung pada alam. Tetapi karena kenyataan ontologis bahwa manusia adalah bagian integral dari alam, manusai adalah anggota komunitas ekologis. Bahkan  dalam perspektif ekofeminisme, sikap hormat kepada alam ini lahir dari dari relasi kontekstual manusia dengan alam dalam komunitas ekologis tadi. oleh : hariadi p.