Pukul
dua kosong-kosong, waktu dimana ayam jago juga belum berkokok. Sebagian orang
sudah mulai bangun dari istirahat malamnya. Lengan baju yang dilipat sampai
atas siku, lalu melakukan basuhan awal dan sampai basuhan terakhir pada kaki,
untuk mensucikan dan untuk bersujud. Ada juga yang menurunkan hasil pertanian
di trotoar depan pasar, memanggul karung berisi jagung atau mendorong gerobak
bermuatan tomat dalam zak. Tapi tak sedikit juga yang baru memulai tidurnya,
setelah bercengkerama dengan keluarga yang terlalu larut, maklum tuntutan
pekerjaan kadang memaksa orang tua harus memulai dengan telat, termasuk juga
dengan buah hatinya.
Tampilkan postingan dengan label Jalan jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan jalan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 November 2013
Selasa, 28 Mei 2013
Selasa, 02 April 2013
Dari Pinggir Jalan
![]() |
| Masih Berjalan |
dari satu rumah ke pelanggan yang lainya, Ibu ini memadukan barang jajananya antara jamu tradisional dan kudapan.
![]() |
| Diantara Roda Mesin |
Bapak tua bersama sepeda tuanya menahan beban untuk sepeda lainya. Pada sela-sela bahu jalan raya, ia terhimpit oleh teknologi
![]() |
| Bermain |
Dengan kaleng bekas susu, mereka menabung recehan. Tak jarang juga mereka memanfaatkan untuk bermain.
-hp-
Samarinda April 2013
Rabu, 20 Maret 2013
Di batas selatan Bojonegoro
“Mengolah
untuk tetap bisa makan dan tetap rimba di bagian penangkap hujan”
![]() |
| Jalan di tengah BKPH Dander |
Rabu, 27 Februari 2013
Gowes to d'99
“Daerah anggana. Masuk dalam kabupaten Kutai kartanegara”
jawab Pak Fajar pada pertanyaan saya kepada beliau sebelumnya. Dan kami, para
penggemar gowes-kecuali saya, karena ini pertamakali-memulai start dari kantor
Polsek Samarinda Ilir.
Jalan aspal dengan lebar lebih kurang hanya cukup untuk dua
MPV, itupun spionya pasti sempat berjabat. dari sinilah para penggemar gowes
memulai bersepeda dengan rekah senyum sehat. Tak ada satupun dari mereka yang terlihat
kurang menarik. Sepeda gunung dengan atribut lainya yang serasi bak atlit
sepeda gunung pada ajang olimpiade-olimpiade tingkat dunia – emang ada
olimpiade tingkat kecamatan?hhihi.
Tantangan pertama-Ada beberapa tanjakan dikit dan jalan
menurun yang cukup panjang. Ketrampilan memainkan gigi ger sepeda para gowes
telah dimulai-dan saya sebaik mungkin memperhatikan mereka dan mencoba seperti
mereka. Wow,,turunan yang panjang dengan kecepatan entah berapa kilometre per
jam cukup menguji adrenalin-khusus untuk pemula, saya. Saya sempat memainkan
rem belakang, dan saat itu juga ada gowes senior yang juga pegawai senior di
kantor, langsung memberi tegur. ”turunan seperti ini, ngga usah direm Di”
tegur Pak Fajar dengan lekas melaju dari sisi kanan saya. Dan saya memutuskan
melepas rem dan wowwow sepeda melesat
lebih kencang sekencang teriakan saya dengan sekalian melepas penat dan gerah
oleh kesibukan bekerja sepekan kebelakang. Wuih
gaya betul ini, udah kaya seriusan saja kerjanya.hheuheu.
Dingin angin pagi dipadu-padan dengan hangat kekeluargaan
para gowes membuat atmosfer pagi itu berasa sirkuit yang akan kami lalui
sepanjang berpuluh kilometer terasa seperti hanya berjarak 5 langkah. harmoni
sebuah komunitas.
Jalur sepeda yang mengasyikkan, sungguh. Dan saat kami harus
melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu penyeberangan karena tempat
tujuan terpisah oleh bahu sungai Mahakam, dan kami berperahu, serta kami
sempatkan juga untuk berfoto-foto. Ini nih fotonya.
| Para pegowes |
Langganan:
Postingan (Atom)





