Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 September 2013

Suasana kopi


Sedari tadi, aku mencarimu di dalam lemari
Tapi, tak juga kutemui
Kemudian, aku mencarimu di bawah telapak kaki ibu
Siapa tahu kamu kembali ke asalimu
Tak kutemui juga
Lantas, harus kucari kemana?

Selasa, 20 Agustus 2013

Kopi Emak memang enak


Pukul tujuh lewat tujuh belas menit, jam digital yang ada pada kanan bawah layar leptop. Sore perdana berada di kamar mess setelah saya tinggal mudik lebaran beberapa hari kemarin. Sore tadi sudah saya bersihkan debu-debu yang melekat di kulit porselen lantai, bahkan jarin g-jaring rumah binatang yang seperti laba-laba tapi memiliki kaki lebih panjang dan ukuran badan lebih kecil. Sprei yang telah tercuci tadi pagi, sore ini sudah wangi dan siap membungkus kasur ber-per. Tumpukan buku yang terbiar berantakan di meja saat saya tinggal mudik kemarin, saya tata kembali. Rapih dan bersih, itu yang saya harapkan. Ehh,, masih ada yang kurang. Harus juga wangi. Pewangi ruangan siap menyemprot pada setiap sudut ruang kamar. Sudah, sekarang sudah wangi.

Rabu, 22 Mei 2013

Total Residu Terlarut


Masih terjaga bersama waktu. Tak hanya waktu, akhir-akhir ini selain kopi dan kotak putih ada faktor lagi yang menjadi kawan dekat, jarak. Begitupun sebenarnya saya berseteru dengan jarak, tapi saya jadi mengerti apa makna dari kilometer dan kedekatan. Ini masih terlalu pagi, tak baik terus berseru pada jarak. Oke, saya hanya ingin bercerita tentang rekan dan yang intim pada rekan saya.

Sebenarnya waktu itu saya basa-basi ngajak dia ngopi di sebuah kedai. Di kota ini, kota yang baru saya akrabi, lebih sering ngopi sendiri. jarang dari rekan baru saya disini yang sehobi dengan melewati setiap menit dalam jam-jam di kedai. Dan saat itu, rekan saya, Dito namanya, menerima tawaran saya. Jadilah kami ngopi. Dito adalah enginer lingkungan yang dua tahun lebih dulu memulai pengalaman dalam area lingkungan tambang.

Ia pernah bilang, ketika sudah berkeluarga, ia lebih memilih tinggal di perumahan dari pada hidup di desa. Selain tertata, perumahan memberi jaminan hidup yang lebih privat. Di desa tidak seperti itu. “Di desa dalam seminggu bisa saja harus menghadiri undangan syukuran sampai sembilan kali” kata dia. Dari situ saya menilai Dito adalah teman yang cukup menghindar dari kehidupan rural, dan lebih memilih yang invidual. Saya sempat berfikir, ia adalah introvert. 

Rabu, 20 Maret 2013

Di batas selatan Bojonegoro


Mengolah untuk tetap bisa makan dan tetap rimba di bagian penangkap hujan

Jalan di tengah BKPH Dander
Lagu White shoes and the couples company dengan getar beritme pada handphone . Panggilan masuk dari nomer yang belum tersimpan pada phonebook saya. Halo,, selamat pagi..ini dengan siapa? Sapaku kepada lawan bicara yang ada di sana. ternyata adalah anggota nursery yang ijin mengalihkan tugas kerja karena ia sedang sakit. Iya ga papa, bapak istirahat dan semoga lekas sembuh. Tutup pebincangan telpon di pagi itu.