
Pekan ke
tiga Januari 2013. Ibu kota tenggelam. Tidak hanya rumah gubuk di bantaran
sungai yang tenggelam, roda perekonomian juga kelelep, pakar ekonom merinci
dengan kalkulator dagang dan bisnis bahwa kerugian sampai bertriliunan rupiah,
bahkan Ketua APINDO menaksir kerugian mencapai 500 miliar per hari. Sekolah
libur dan anak-anak gembira bermain air, walau tak semua berakhir gembira
karena ada korban bocah yang terbawa arus air dan meninggal. Para sekertaris
dipulangkan sebelum jam selesai kerja, karena air terus meninggi dan memaksa
PLN memadamkan aliran arus listrik dan mereka tidak dapat mencetak laporan
mingguanya. Pedagang bakso sementara juga berlibur, karena babi memilih lari
mencari daerah yang lebih tinggi, dan tidak ada bahan. Apalagi pedagang asongan,
tisu paseonya pada basah dan rokok otekan nya juga mlempem kena air.Ojek, taksi dan busway juga
mandek tak beroperasi. Ojek motor masih maklum menurut saya, tapi busway yang
dirancang dengan jalan yang eksklusif pun tak bergeming mesinya saat air dari
kota di sebelah selatan ibu kota mengaliri ibu kota. Ibu kota lumpuh dan
penyakitnya sedang kambuh.