Pada
meja bundar, yang bisa diisi oleh tiga kursi. Meskipun sebenarnya bila diisi
dengan empat kursi masih bisa. Karena ada satu sisi yang menempel pada dinding,
maka kursi yang muat hanya tiga pada kondisi yang masih nyaman. Pagi ini, saya
sudah duduk ganteng di salah satu kursi yang memeluk meja bundar itu. Duduk
pada sisi yang pas sebelah kanan saya adalah dinding dari kaca. Kaca ini tembus
pandang pada apa yang ada di ruang sebelah. Di seberang kaca adalah ruang Tuan
manajer. Ruang yang selalu panas, juga pada makna sebenarnya. Mesin Panasonic
dengan kekuatan pendingin satu peka tidak terlalu berarti di ruangan ini. Pada
ukuran ruangan tiga kali tiga meter persegi harusnya mesin ini dapat berfungsi
dengan lebih. Tapi, Tuan manajer tidak tahan dengan pendingin. Jadi,
dicuekinlah si pendingin itu. Kasian. Selain itu, ruang ini tak jarang juga
terlihat tatapan mata yang menajam dan percakapan yang menegang.
Sabtu, 13 Juli 2013
Rabu, 03 Juli 2013
Ant dan Gula
Antoni,
pagi buta sudah bangun dan mulai menyiapkan untuk memeluk apa yang ia cintai.
Umumnya, untuk yang lain, akan memeluk apa yang dicintai saat terlelap malam.
Tapi Antoni beda, ia masih lajang dan satu-satunya yang ia cintai adalah bahan
hasil olahan tebu, gula pasir. Semut mana yang tidak doyan gula. Semua suka,
tapi ada karakter unik oleh Antoni pada yang ia cintai. Pada kristal gula pasir
ini.
Tak
lupa ia melakukan rutinitas sembah sujud pada sang penciptanya, juga pencipta
yang ia cintai. Pada rutinitas tersebut selalu tak tertinggal ia mengucap rasa
syukur kepada sang hyang karena telah menciptakan sang kekasih dambaan. Gula.
Setelah melakukan sembah sujud,ia olahraga kecil, supaya tak kram bila nanti ia
menikmati kekasihnya.
Jumat, 28 Juni 2013
Monolog Pagi
Bungaku,
bunga yang tumbuh organik pada tanah yang penuh bahan sintetik. Bungaku yang organik
tumbuh di bawah matari yang terik. Bungaku yang organik, dan tentunya ia juga
sempat menghisap yang sintetik. Justru itu ia bukanlah pribadi yang tengik. Ia
bisa berkolaborasi dengan lingkungan yang tiap hari makin kecekik oleh plastik.
Bungaku,
tidak dipelihara oleh seorang juragan. Bungaku, tidak dipupuk secara sengaja
oleh tangan babu rumahan. Bungaku, kamu mengisap nutrisi dalam tanah yang sudah
disediakan oleh tuhan. Bungaku, meskipun harus pelan berkembang tapi kamu tahu
arah tujuan.
Selasa, 28 Mei 2013
Citra niaga
Pukul
11 lewat beberapa menit, siang hari. Saya putuskan untuk menggunakan jasa
angkot untuk menuju pertokoan Citra niaga. Sebenarnya pernah sekali ke tempat
itu, tapi sudah beberapa bulan yang lalu, dan kini, saya lupa. Saya tidak yakin
segera menemukan tempat itu bila dengan berkendara sendiri. Jasa angkutan kota
adalah pilihan tepat untuk menuju sana. Sebenarnya bisa juga menggunakan ojek
yang lebih cepat, tapi Samarinda dengan siang yang erat dengan bulir-bulir debu
yang bebas mondar-mandir-hilir-mudik, saya rasa tak tepat bila menggunakan jasa
ojek. Ingin yang lebih nyaman juga ada, taksi dengan seri sedan Limo. Dengan
jasa angkutan ini, harus dalam-dalam rogoh kocek, sehingga cukup bukan menjadi
pilihan.
Angkot
juga mengingatkan saya pada masa kuliah dulu. Saat kuliah angkot menjadi
pilihan primadona kebanyakan mahasiswa yang akan memobilisasi diri ke suatu lokasi,
tak terkecuali saya. Meskipun abang-abang angkotnya tidak jarang juga membuat
suasana gerah karena ngetem yang tak kunjung melepas pedal rem, tapi tetap saja,
kehadiranya sering saya nanti-nanti.
Langganan:
Postingan (Atom)

