Kamis, 26 September 2013

Lidah mertua

Jujur, otak saya harus terpaksa berfikir keras saat mendengar nama salah satu jenis tanaman satu ini. Bukan karena taksonomi atau tentang fisiologinya, tapi karena namanya yang unik dan nyleneh. Lidah mertua. Iya, masyarakat kita nyebutnya seperti itu. Kembang lidah mertua. Kalau lidah buaya saya lebih dulu mengenal, dan menurut saya wajar karena bentuk daun lidah buaya yang lebih mirip dengan bagian organ buaya. Jadi otak saya cukup menerima dengan tanaman lidah buaya, meskipun sebenarnya daunnya lebih mirip dengan ekor buaya dari pada lidah seekor buaya. Lha ini Lidah mertua, apa coba hukum kasualitasnya? Kalean bingung dengan bunga ini? Maaf, saya juga bingung. Hheuheu…

Rabu, 25 September 2013

Suasana kopi


Sedari tadi, aku mencarimu di dalam lemari
Tapi, tak juga kutemui
Kemudian, aku mencarimu di bawah telapak kaki ibu
Siapa tahu kamu kembali ke asalimu
Tak kutemui juga
Lantas, harus kucari kemana?

Rabu, 21 Agustus 2013

Kejutan


Jadi ceritanya saya agak terburu-buru. Melihat jarum arloji di angka dua lebih dikit pada jarum pendek, di angka jarum panjang, dan kebetulan arloji saya tidak berjarum panjang berwarna merah. Pada arloji saya penunjuk jarum panjang merah disajikan dengan digital. Pada waktu jarum arloji tersebut saya belum sholat dhuhur. Langsung saya ke kamar mandi untuk menyucikan muka dan bagian-bagian lain supaya lebih segar. Di rumah ini, tak ada tempat khusus untuk berwudu, jadi saya melakukanya di kamar mandi.

Selasa, 20 Agustus 2013

Kopi Emak memang enak


Pukul tujuh lewat tujuh belas menit, jam digital yang ada pada kanan bawah layar leptop. Sore perdana berada di kamar mess setelah saya tinggal mudik lebaran beberapa hari kemarin. Sore tadi sudah saya bersihkan debu-debu yang melekat di kulit porselen lantai, bahkan jarin g-jaring rumah binatang yang seperti laba-laba tapi memiliki kaki lebih panjang dan ukuran badan lebih kecil. Sprei yang telah tercuci tadi pagi, sore ini sudah wangi dan siap membungkus kasur ber-per. Tumpukan buku yang terbiar berantakan di meja saat saya tinggal mudik kemarin, saya tata kembali. Rapih dan bersih, itu yang saya harapkan. Ehh,, masih ada yang kurang. Harus juga wangi. Pewangi ruangan siap menyemprot pada setiap sudut ruang kamar. Sudah, sekarang sudah wangi.

Sabtu, 13 Juli 2013

Ruang yang nrawang


Pada meja bundar, yang bisa diisi oleh tiga kursi. Meskipun sebenarnya bila diisi dengan empat kursi masih bisa. Karena ada satu sisi yang menempel pada dinding, maka kursi yang muat hanya tiga pada kondisi yang masih nyaman. Pagi ini, saya sudah duduk ganteng di salah satu kursi yang memeluk meja bundar itu. Duduk pada sisi yang pas sebelah kanan saya adalah dinding dari kaca. Kaca ini tembus pandang pada apa yang ada di ruang sebelah. Di seberang kaca adalah ruang Tuan manajer. Ruang yang selalu panas, juga pada makna sebenarnya. Mesin Panasonic dengan kekuatan pendingin satu peka tidak terlalu berarti di ruangan ini. Pada ukuran ruangan tiga kali tiga meter persegi harusnya mesin ini dapat berfungsi dengan lebih. Tapi, Tuan manajer tidak tahan dengan pendingin. Jadi, dicuekinlah si pendingin itu. Kasian. Selain itu, ruang ini tak jarang juga terlihat tatapan mata yang menajam dan percakapan yang menegang.